Daftar Isi

Ada Jam Ketika Saya Sengaja Mematikan Proyektor: Teknologi yang Bagus Pun Punya Giliran Diam

Pagi itu proyektor sudah menyala sebelum bel berbunyi. Slide saya rapi, gambarnya jelas, langkah-langkahnya lengkap. Saya merasa sudah menyiapkan pelajaran yang baik. Lalu saya memperhatikan murid-murid saya: mereka menatap layar, menyalin apa yang tertulis, dan hampir tidak ada yang bertanya. Pelajaran berjalan mulus, tetapi terlalu mulus. Di akhir jam, saya menghapus slide dan meminta satu murid mengulang kembali apa yang baru saja kami pelajari. Ia menatap papan tulis yang kosong, lalu menatap saya, dan tidak bisa memulai.

Sejak hari itu saya mengubah satu kebiasaan. Saya tidak mengurangi teknologi di kelas, tetapi saya memberinya giliran diam. Ada jam-jam tertentu ketika proyektor saya matikan dengan sengaja, bukan karena rusak dan bukan karena listrik padam. Alasannya sederhana: ada pekerjaan berpikir yang hanya terjadi ketika layar tidak sedang menjawab duluan.

Masalahnya bukan pada slidenya. Slide yang bagus memang membantu, terutama untuk gambar yang sulit digambar tangan, seperti bangun ruang atau diagram yang rumit. Masalahnya ada pada kecepatan. Ketika langkah pertama, kedua, dan ketiga sudah terpampang sekaligus, murid tidak lagi punya alasan untuk menebak langkah berikutnya. Mereka tidak salah, tetapi mereka juga tidak sempat berpikir. Yang mereka lakukan hanyalah memindahkan tulisan dari layar ke buku.

Saya menyadari hal ini paling jelas saat mengajar topik baru. Misalnya, ketika pertama kali memperkenalkan cara menyelesaikan persamaan sederhana, saya dulu langsung menampilkan contoh lengkap beserta jawabannya. Murid mengangguk-angguk, seolah paham. Padahal yang mereka pahami adalah alur tampilannya, bukan alur berpikirnya. Begitu soalnya diubah sedikit saja, anggukan itu hilang.

Sekarang, untuk sepuluh menit pertama topik baru, proyektor saya matikan. Saya hanya menulis soalnya di papan tulis, lalu bertanya: kira-kira langkah pertama apa yang masuk akal? Jawaban mereka bermacam-macam, dan sebagian salah. Justru di situlah pelajaran dimulai. Kami menguji satu tebakan, melihat ke mana ia membawa, lalu memperbaikinya bersama-sama. Sepuluh menit itu terasa lebih lambat daripada menampilkan slide, tetapi sisanya menjadi lebih cepat, karena murid sudah pernah salah di tempat yang aman: di depan kelas, sebelum ulangan.

Seiring waktu, saya menemukan tiga saat ketika layar lebih banyak mengganggu daripada membantu.

Pertama, saat murid berdiskusi. Dulu saya membiarkan slide tetap menyala selama kerja kelompok, dengan alasan supaya mereka bisa melihat kembali contohnya. Yang terjadi justru sebaliknya: mata mereka kembali ke layar, bukan ke teman sekelompoknya. Diskusi berubah menjadi kegiatan menyalin bersama. Sekarang, ketika kerja kelompok dimulai, saya matikan proyektor dan saya katakan terus terang alasannya: saya ingin mereka mendengar pendapat temannya, bukan membaca pendapat slide. Hasilnya tidak selalu rapi, tetapi percakapannya hidup. Ada murid yang membela caranya dengan suara agak keras, ada yang mengubah pendapat setelah mendengar penjelasan temannya.

Kedua, saat latihan mandiri yang singkat. Untuk kuis lima menit atau latihan tiga soal, saya tidak lagi menampilkan contoh yang mirip dengan soal latihan. Contoh yang menempel di layar membuat latihan itu bukan lagi latihan, melainkan kegiatan meniru. Saya ingin tahu apa yang benar-benar sudah menempel di kepala mereka, dan satu-satunya cara mengetahuinya adalah memberi mereka ruang tanpa contekan yang terpampang. Kalau hasilnya banyak yang salah, itu kabar yang jujur, bukan kegagalan.

Ketiga, saat saya ingin murid memperhatikan satu sama lain. Ada momen dalam pelajaran ketika yang paling penting bukan materi, melainkan keberanian: murid yang maju ke depan mempresentasikan caranya, atau murid yang mengakui ia belum paham. Pada momen seperti itu, layar yang menyala mencuri perhatian. Semua mata tertuju ke cahaya, bukan ke teman yang sedang berbicara. Mematikan proyektor adalah cara paling sederhana untuk mengembalikan perhatian itu kepada orangnya.

Mematikan proyektor bukan berarti kembali ke zaman tanpa alat bantu. Papan tulis tetap saya pakai, tetapi dengan cara yang berbeda: saya menulis pelan, mengikuti kecepatan berpikir kelas, bukan kecepatan tangan saya. Kadang saya sengaja berhenti di tengah langkah dan membiarkan kelas yang melanjutkan. Kadang saya menulis jawaban murid yang salah di papan, lalu kami memeriksa bersama di mana letak salahnya, tanpa menyalahkan siapa pun.

Saya juga memakai kertas kecil. Untuk pertanyaan cepat, murid menulis jawabannya di sepotong kertas lalu mengangkatnya bersamaan. Dalam sepuluh detik saya bisa melihat gambaran kelas: siapa yang sudah paham, siapa yang masih ragu, siapa yang salah di langkah yang sama. Tidak ada aplikasi yang saya buka, tidak ada perangkat yang perlu diisi daya, dan tidak ada murid yang tertinggal karena HP-nya kehabisan baterai.

Cara-cara ini terdengar kuno, tetapi kuno bukan berarti kalah.

Tulisan ini bukan ajakan untuk membuang proyektor. Setelah tiga saat itu lewat, proyektor saya nyalakan lagi, dan ia bekerja dengan sangat baik di tempatnya. Untuk menunjukkan gambar bangun ruang yang sulit digambar tangan, untuk memutar video singkat, untuk menampilkan karya murid supaya bisa dibahas bersama, tidak ada pengganti yang secepat layar. Teknologi yang bagus tetap saya pakai setiap hari, hanya saja tidak setiap menit.

Saya kira inilah yang perlu kita jaga sebagai guru: bukan soal memakai teknologi atau tidak, melainkan soal siapa yang memegang kendali. Kalau layar menyala sepanjang jam, layarlah yang mengatur ritme pelajaran. Kalau kita yang memutuskan kapan ia menyala dan kapan ia diam, maka teknologi kembali menjadi alat, bukan menjadi pengatur.

Jadi, kalau Anda berkunjung ke kelas saya dan mendapati proyektor padam di tengah pelajaran, jangan khawatir. Bukan rusak. Mungkin saat itu kelas saya sedang melakukan pekerjaan yang paling penting: berpikir, berdiskusi, atau berani salah di depan teman-temannya. Dan untuk pekerjaan seperti itu, layar memang sebaiknya diam dulu.