<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Statistika - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/statistika/</link><description>Statistika - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Fri, 30 Oct 2026 16:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/statistika/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Satu Data, Tiga Ukuran: Latihan Soal Mean, Median, dan Modus untuk Kelas VIII</title><link>https://site.pakgun.web.id/latihan-soal-mean-median-modus-kelas-viii/</link><pubDate>Fri, 30 Oct 2026 12:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/latihan-soal-mean-median-modus-kelas-viii/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/latihan-soal-mean-median-modus-kelas-viii/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Di kelas VIII saya, statistika sering terasa mudah di awal dan membingungkan di tengah jalan. Anak-anak hafal bahwa mean adalah rata-rata, median adalah nilai tengah, dan modus adalah nilai yang paling sering muncul. Tetapi begitu datanya berubah bentuk, dari daftar menjadi tabel frekuensi misalnya, hafalan itu tidak cukup, padahal yang berubah hanya kemasannya, bukan idenya.</p>
<p>Karena itu saya lebih suka melatih ketiganya dari satu data yang sama, sampai anak melihat perbedaan karakternya. Mean bisa ditarik oleh satu nilai ekstrem, median tetap tegak di tengah walau ada nilai yang meloncat jauh, dan modus bercerita tentang nilai yang paling banyak dipilih. Lembar latihan di bawah ini saya susun dengan pola itu: empat soal dengan pembahasan, lalu dua latihan mandiri.</p>]]></description></item><item><title>Ogif: Garis yang Menghubungkan Titik Tengah Kelas</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-ogif-data-berkelompok/</link><pubDate>Fri, 30 Oct 2026 16:00:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-ogif-data-berkelompok/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-ogif-data-berkelompok/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Minggu lalu saya membagikan lembar data tinggi badan siswa kelas VIII yang sudah dikelompokkan ke dalam interval. Tugasnya klasik: buat tabel distribusi frekuensi, lalu gambar histogramnya. Sebagian besar anak selesai dengan lumayan rapi. Tapi ketika saya berkeliling, ada satu gambar yang membuat saya berhenti di sisi meja Raka. Histogramnya benar, tapi di atasnya ada garis patah-patah kuning yang menghubungkan puncak setiap batang. Saya tanya, &ldquo;Ini garis apa, Rak?&rdquo;</p>
<p>&ldquo;Itu ogif, Pak. Bu catatan bilang ogif itu garis,&rdquo; jawabnya mantap.</p>
<p>Di situ saya sadar ada yang tidak beres selama ini. Bukan pada Raka — dia hanya mengulang apa yang pernah dilihatnya. Kesalahan itu milik kita para penggambar: diagram yang sering ditempel berdampingan di buku paket sampai terlihat seperti satu paket yang sama. Padahal ogif dan poligon frekuensi itu dua hal yang berbeda, dan perbedaannya bukan sekadar warna garis.</p>]]></description></item><item><title>Histogram yang Menyatu: Menggambar Poligon Frekuensi dengan TikZ</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-poligon-frekuensi/</link><pubDate>Fri, 30 Oct 2026 07:55:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-poligon-frekuensi/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-poligon-frekuensi/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Minggu lalu saya mengajar statistika di kelas VIII. Materi yang biasanya saya anggap ringan: menyusun tabel frekuensi, menggambar histogram. Tapi ketika saya menulis &ldquo;poligon frekuensi&rdquo; di papan, satu anak di baris depan mengangkat tangan.</p>
<p>&ldquo;Pak, ini segitiga apa?&rdquo; tanyanya sambil menunjuk garis-garis yang saya buat di atas gambar histogram yang sudah jadi.</p>
<p>Saya tertawa. Bukan menertawakan dia, tapi karena pertanyaannya jujur dan mewakili banyak teman sekelasnya yang hanya diam. Selama ini mereka melihat poligon frekuensi sebagai sesuatu yang <em>ditempel</em> di atas histogram, bukan sebagai sesuatu yang <em>tumbuh</em> dari histogram. Dan jujur saja, banyak buku pelajaran yang memperbesar kebingungan itu: halaman kiri menampilkan histogram, halaman kanan menampilkan poligon frekuensi yang berdiri sendiri, seolah keduanya dua topik yang tidak punya hubungan darah.</p>]]></description></item><item><title>Histogram yang Jujur pada Interval Kelas: Menggambar Data Berkelompok dengan TikZ</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-histogram-data-berkelompok/</link><pubDate>Thu, 29 Oct 2026 16:12:57 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-histogram-data-berkelompok/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-histogram-data-berkelompok/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Ada satu momen setiap tahun ajaran yang sudah saya bisa hafal jalannya. Ketika kelas delapan masuk ke materi statistika — khususnya data berkelompok — dan saya minta mereka menggambar histogram dari tabel frekuensi, hampir selalu muncul gambar yang sama: lima batang berdiri dengan jarak renggang di antara mereka, persis seperti diagram batang biasa, hanya saja labelnya bukan kategori melainkan interval. Sisanya hanya soal estetika: diwarnai, diberi judul, dikumpulkan.</p>
<p>Dulu saya coret. &ldquo;Ini histogram, bukan diagram batang,&rdquo; kata saya, lalu memberi contoh dari buku. Anak-anak mengubah gambar mereka, batangnya dirapatkan, dan selesai. Tahun berikutnya, miskonsepsi yang sama kembali. Batang-batang itu tetap renggang, seperti lantunan lagu yang tidak pernah benar-benar saya jelaskan kenapa harus berirama begitu.</p>]]></description></item><item><title>Koin yang Setia: Frekuensi Relatif dan Peluang yang Muncul dari Data</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-frekuensi-relatif-peluang/</link><pubDate>Thu, 29 Oct 2026 11:25:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-frekuensi-relatif-peluang/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-frekuensi-relatif-peluang/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Beberapa tahun terakhir saya mengajarkan peluang dengan cara yang sama seperti buku paket: ruang sampel, rumus $\frac{n(A)}{n(S)}$, selesai. Hasilnya konsisten — siswa bisa menghitung peluang muncul angka pada koin adalah $\frac{1}{2}$, tapi jika saya tanya &ldquo;kalau koin dilempar sepuluh kali, pasti lima angka?&rdquo; mereka menjawab &ldquo;pasti&rdquo; dengan lantang. Rumusnya hafal, maknanya kosong.</p>
<p>Tahun ini saya mencoba jalan sebaliknya. Sebelum rumus mana pun ditulis, kelas VIII-A melempar koin. Satu koin, dilempar berkali-kali, dicatat setiap hasilnya. Kegaduhan yang terjadi di kelas itu sendiri sudah sepadan — tapi hadiah sesungguhnya datang saat kami menggambar datanya.</p>]]></description></item><item><title>Kotak yang Bercerita: Menggambar Boxplot Data Kelas dengan TikZ</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-diagram-kotak-garis-boxplot/</link><pubDate>Thu, 29 Oct 2026 05:10:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-diagram-kotak-garis-boxplot/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-diagram-kotak-garis-boxplot/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Materi statistika di kelas delapan punya satu diagram yang selalu bikin saya deg-degan setiap harus mengajarkannya: boxplot. Di buku, dia disebut diagram kotak-garis, dan saya paham kenapa. Diagram ini memang cuma kotak dengan dua garis kumis di kirinya dan kanannya. Tapi di balik bentuk yang sederhana itu, ada lima angka yang harus dihitung dulu: nilai minimum, kuartil bawah $Q_1$, median, kuartil atas $Q_3$, dan nilai maksimum. Siswa yang menggambar kotaknya tanpa menghitung lima angka itu sebenarnya sedang menggambar sesuatu yang tidak bercerita apa-apa.</p>]]></description></item><item><title>Dua Garis yang Berjalan Bersama: Menggambar Diagram Pencar dengan TikZ</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-diagram-pencar-sebaran-dua-variabel/</link><pubDate>Thu, 29 Oct 2026 00:55:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-diagram-pencar-sebaran-dua-variabel/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-diagram-pencar-sebaran-dua-variabel/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Ada satu pertanyaan yang setiap tahun muncul di kelas, biasanya dari anak yang duduk di barisan belakang, ketika saya baru selesai menggambar diagram batang nilai ulangan: &ldquo;Pak Gun, kalau nilainya naik karena sering belajar, kok tidak digambar sekalian?&rdquo; Saya dulu menjawabnya sambil beralasan — diagram batang kita memang hanya untuk satu kolom data. Tapi pertanyaan itu mengganjal. Anak itu, tanpa menyadarinya, sedang bertanya tentang sesuatu yang lebih dalam daripada frekuensi: ia bertanya tentang <em>hubungan</em>. Dan hubungan dua hal memang punya gambar tersendiri — diagram pencar, atau yang di beberapa buku disebut diagram dosir.</p>
<p>Tahun ini saya memutuskan tidak lagi mengelak. Kami mencobanya dengan data yang paling dekat dengan hidup mereka: jam belajar per minggu dan nilai ulangan harian.</p>]]></description></item><item><title>Diagram Garis yang Tidak Mengarang Frekuensinya: Menggambar Data Diskret dengan TikZ</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-diagram-garis-frekuensi/</link><pubDate>Tue, 27 Oct 2026 19:30:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-diagram-garis-frekuensi/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-diagram-garis-frekuensi/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Minggu lalu saya memberi tugas kecil di kelas sembilan: catat nominal uang jajan kalian hari ini, kelompokkan, lalu sajikan dalam bentuk apa pun yang menurut kelompok kalian paling jujur. Salah satu kelompok memilih diagram garis. Ketika mereka memresentasikan, ada satu garis yang membuat saya tidak bisa diam: garis dari nominal dua ribu ke nominal lima ribu digambar lurus, dan di tengahnya — tepat di atas nominal tiga ribu setengah — mereka menaruh titik.</p>
<p>&ldquo;Pak, ini titiknya artinya apa?&rdquo;</p>
<p>Mereka saling pandang. Tidak ada yang bisa menjawab. Titik itu memang tidak artinya apa-apa, karena tidak ada satu pun anak di kelas itu yang jajan tiga ribu lima ratus rupiah. Titik itu lahir dari kebiasaan menggambar, bukan dari data.</p>]]></description></item><item><title>Rata-rata yang Ditarik Satu Nilai Ekstrem: Median dan Data Miring dengan TikZ</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-rata-rata-median-data-miring/</link><pubDate>Tue, 27 Oct 2026 10:55:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-rata-rata-median-data-miring/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-rata-rata-median-data-miring/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Percakapan yang mengubah rencana mengajar saya terjadi tahun lalu, tepat setelah pembagian hasil ulangan statistika dasar. Seorang murid—sebut saja Rani—mengangkat tangan dan bertanya dengan nada curiga, &ldquo;Pak, kok rata-rata kelas kami 73, padahal saya lihat nilai terbanyak cuma 70? Lalu kenapa ada yang bilang rata-ratanya 76?&rdquo;</p>
<p>Awalnya saya kira dia salah melihat. Ternyata tidak. Dia melihat dua angka dari dua sumber yang berbeda, dan keduanya benar. Satu adalah rata-rata, satu lagi median. Di kelas itu, dua angka itu tidak berjarak dua poin seperti di banyak contoh soal—mereka berjarak cukup jauh, dan selisih itu justru menjadi pintu masuk terbaik yang pernah saya dapat untuk membahas data miring.</p>]]></description></item><item><title>Menggambar Diagram Batang yang Bisa Dipercaya: TikZ untuk Data Kelas</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-diagram-batang-data-kelas/</link><pubDate>Sun, 25 Oct 2026 17:30:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-diagram-batang-data-kelas/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-diagram-batang-data-kelas/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Materi statistika di kelas delapan selalu saya buka dengan kegiatan sederhana: mengumpulkan data dari siswa sendiri. Semester lalu saya meminta mereka mengumpulkan data tinggi seluruh anggota kelompok, lalu kita rangkum jadi tabel frekuensi. Tahun ini saya pakai data yang lebih dekat dengan keseharian mereka: nilai ulangan harian kelas VII-B. Datanya saya kelompokkan ke interval 41&ndash;50 sampai 81&ndash;90, dan frekuensinya jadi: 4, 7, 12, 9, dan 3.</p>
<p>Masalah muncul saat saya minta mereka menggambar diagram batangnya di buku. Yang pertama sumbu tegaknya dibuat &ldquo;kira-kira&rdquo; — frekuensi 12 digambar dua kali lebih tinggi dari frekuensi 4, padahal seharusnya tiga kali. Yang kedua jarak antarbatangnya tidak seragam: batang pertama dan kedua berdempetan, batang ketiga dan keempat terpisah jauh. Yang ketiga justru paling menarik: dia menggambar batangnya bagus dan rapi, tapi lupa memberi skala pada sumbu tegak sama sekali. Ketika saya tanya berapa tinggi batang ketiga, dia jawab, &ldquo;Dua belas, Pak. Kan tulis di atasnya.&rdquo;</p>]]></description></item></channel></rss>