<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Refleksi - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/refleksi/</link><description>Refleksi - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Mon, 02 Nov 2026 01:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/refleksi/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Ini Buat Apa, Pak Gun?: Pertanyaan yang Saya Berhenti Menolak</title><link>https://site.pakgun.web.id/ini-buat-apa-pertanyaan-makna/</link><pubDate>Wed, 28 Oct 2026 09:20:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/ini-buat-apa-pertanyaan-makna/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/ini-buat-apa-pertanyaan-makna/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Pertanyaan itu muncul di kelas VIII, di tengah pelajaran tentang bilangan berpangkat. Saya sedang menuliskan contoh di papan tulis ketika seorang anak di barisan belakang mengangkat tangan setengah malas, setengah serius, dan bertanya: &ldquo;Ini buat apa, Pak Gun? Nanti kerja juga nggak kepake.&rdquo; Suara kelas langsung hening sejenak, lalu ada yang terkikik. Saya waktu itu menjawab cepat — semacam refleks guru yang sudah sering ditanya — &ldquo;Nanti waktu SMA dipakai kok, ini dasar untuk materi berikutnya.&rdquo; Anak itu mengangguk-angguk, tapi saya tahu dia tidak puas. Saya juga tidak puas dengan jawaban saya sendiri.</p>]]></description></item><item><title>Rumah untuk Tulisan-Tulisan Saya: Cerita di Balik Blog GezyTech</title><link>https://site.pakgun.web.id/cerita-di-balik-blog-gezytech/</link><pubDate>Mon, 02 Nov 2026 01:00:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/cerita-di-balik-blog-gezytech/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/cerita-di-balik-blog-gezytech/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Malam itu saya menutup dokumen yang isinya tiga artikel setengah jadi. Semuanya tersimpan di folder yang namanya &ldquo;baru&rdquo; — dan memang baru, karena saya sendiri lupa kapan terakhir menyentuhnya. Ada tulisan tentang cara saya mengajarkan pecahan, ada coretan tentang soal yang pernah bikin kelas VII heboh, ada juga rangkuman refleksi yang niatnya mau dikirim ke rekan sejawat tapi tak pernah selesai. Ketiganya tidur rapi di laptop, sehat-sehat saja, tapi tidak pernah bertemu siapa pun.</p>
<p>Di titik itu saya sadar sesuatu yang agak memalukan: saya yang setiap hari mengajak siswa menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas, ternyata punya tumpukan karya yang tidak pernah saya selesaikan penerbitannya. Bukan karena malas menulis — menulis justru bagian yang paling saya nikmati. Tetapi tulisan yang hanya tinggal di folder &ldquo;baru&rdquo; itu beda kelas dengan tulisan yang punya alamat.</p>]]></description></item><item><title>Pertanyaan yang Tidak Saya Jawab Hari Itu</title><link>https://site.pakgun.web.id/pertanyaan-yang-tidak-saya-jawab/</link><pubDate>Thu, 29 Oct 2026 09:29:44 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/pertanyaan-yang-tidak-saya-jawab/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/pertanyaan-yang-tidak-saya-jawab/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Pertanyaannya datang di menit-menit terakhir pelajaran, dari siswa yang biasanya diam: &ldquo;Pak, kalau pembilangnya nol, kok hasilnya nol? Bukannya nggak boleh dibagi nol?&rdquo;</p>
<p>Kelihatannya sepele. Tapi dia bertanya tentang sesuatu yang tidak saya siapkan jawabannya — bukan sekadar &ldquo;pembagian dengan nol tidak terdefinisi&rdquo; yang bisa saya lafal, melainkan <em>mengapa</em> $\frac{0}{5}$ boleh tapi $\frac{5}{0}$ tidak. Dan di detik itu saya sadar: kalau saya menjawab asal-asalan, saya akan mengajari dia bahwa pertanyaan bagus boleh dijawab setengah hati.</p>]]></description></item><item><title>Ketika Saya Salah Menghitung di Depan Kelas</title><link>https://site.pakgun.web.id/ketika-salah-menghitung-di-depan-kelas/</link><pubDate>Thu, 29 Oct 2026 09:24:44 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/ketika-salah-menghitung-di-depan-kelas/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/ketika-salah-menghitung-di-depan-kelas/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Terjadi di kelas VIII, saat membahas soal pecahan. Saya menulis penyelesaian di papan dengan penuh percaya diri — sampai satu siswa di baris ketiga mengangkat tangan dengan setengah berani, &ldquo;Pak, kayaknya yang bawah tadi&hellip; salah?&rdquo;</p>
<p>Saya lihat ke papan. Dia benar. Saya salah mengalikan pembilang — kesalahan sepele yang biasanya justru saya koreksi di lembar siswa. Dan refleks pertama saya waktu itu, yang sampai sekarang saya malu mengakuinya: <em>gambang sedikit, selesaikan cepat, jangan diperbesar.</em> Saya hampir bilang, &ldquo;Oh iya, hiraukan, nanti saya betulkan.&rdquo;</p>]]></description></item><item><title>Kertas Dilipat, Bayangan Muncul: Mengajar Pencerminan dari Cermin Kelas</title><link>https://site.pakgun.web.id/pencerminan-cermin-kelas/</link><pubDate>Thu, 29 Oct 2026 09:14:44 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/pencerminan-cermin-kelas/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/pencerminan-cermin-kelas/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Transformasi geometri adalah salah satu topik yang paling sering saya ajarkan dengan rumus lebih dulu. Dulu begitu. $P(x,y) \to P&rsquo;(-x,y)$ — hafalkan, kerjakan latihan dua puluh soal, ulangan, selesai. Hasilnya? Nilai banyak yang bagus, tapi ketika saya tanya &ldquo;cerminnya di mana?&rdquo;, jawabannya diam. Mereka tahu rumusnya, bukan maksudnya.</p>]]></description></item><item><title>Menghadap Cermin yang Jujur: Menggambar Refleksi terhadap Garis dengan TikZ</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-refleksi-garis-cermin/</link><pubDate>Wed, 28 Oct 2026 18:40:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-refleksi-garis-cermin/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-refleksi-garis-cermin/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Kalau ditanya transformasi mana yang paling gampang diajarkan, saya pasti menjawab refleksi. Semua orang tahu cermin. Anak-anak melihat bayangannya sendiri setiap pagi sebelum ke sekolah, dan ide bahwa bayangan itu &ldquo;terbalik tapi sama besar&rdquo; langsung masuk tanpa perlu definisi formal. Di kelas VII dulu, saya cukup mengajak mereka berdiri di depan jendela kaca ruang guru, dan dalam sepuluh detik konsepnya sudah siap. Mudah, kan?</p>
<p>Ternyata mudah di <em>pengertian</em>, tidak mudah di <em>gambar</em>. Setiap kali saya menggambar refleksi di papan tulis dengan tangan, hampir selalu ada satu hal yang tidak beres: jarak titik asal ke garis cermin tidak sama dengan jarak garis cermin ke titik bayangannya. Kadang garis cerminnya yang miring sedikit tanpa sengaja, sehingga bayangan yang seharusnya di satu tempat jadi &ldquo;rasanya&rdquo; di tempat lain. Dan karena menggambar di papan tidak bisa di-undo, saya biasanya pura-pura itu memang maksudnya begitu. Siswa-siswa menyalin gambar yang tidak jujur itu ke buku mereka. Itu bagian yang paling mengganggu saya: kesalahan kecil saya jadi tetap dalam tulisan tangan empat puluh anak.</p>]]></description></item><item><title>Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa — dan Ribuan Cara Bicara: Renungan Hari Sumpah Pemuda</title><link>https://site.pakgun.web.id/renungan-hari-sumpah-pemuda-2026/</link><pubDate>Wed, 28 Oct 2026 08:57:40 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/renungan-hari-sumpah-pemuda-2026/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/renungan-hari-sumpah-pemuda-2026/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Setiap tanggal 28 Oktober, sekolah-sekolah di seluruh Indonesia mengenakan pakaian adat, naik ke panggung, melafalkan tiga ikrar yang lahir dari Kongres Pemuda II tahun 1928. Saya ikut merindukan seremoni itu — tidak ada salahnya. Bendera harus dikibarkan, lagu harus dinyanyikan, sejarah harus diceritakan ulang.</p>
<p>Tapi jujur, di sela upacara tahun-tahun sebelumnya, ada pertanyaan kecil yang selalu menghantui saya: <em>kalau esok hari para siswa lupa intonasinya ketika melafalkan Sumpah, apakah mereka juga lupa maknanya?</em> Karena sejarah mencatat, ikrar 28 Oktober 1928 itu tidak lahir di atas panggung. Ia lahir dari ruang-ruang yang jauh lebih sederhana: ruang rapat yang pengap, diskusi di koran-koran muda, pertemuan pemuda dari berbagai penjuru yang saling belajar mendengar satu sama lain. Sumpah itu adalah <em>karya</em> anak muda, bukan sekadar <em>bacaan</em> anak sekolah.</p>]]></description></item><item><title>Modul Ajar Hasil AI yang Tidak Langsung Saya Pakai: Guru sebagai Penyunting</title><link>https://site.pakgun.web.id/modul-ajar-hasil-ai-guru-penyunting/</link><pubDate>Sun, 25 Oct 2026 18:20:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/modul-ajar-hasil-ai-guru-penyunting/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/modul-ajar-hasil-ai-guru-penyunting/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Sabtu sore pekan lalu, saya duduk di depan layar dengan satu tugas yang setiap guru kenal baik: menyiapkan modul ajar untuk pekan berikutnya. Kurikulum sudah berubah beberapa kali sejak saya mulai mengajar, tetapi satu hal tidak pernah berubah — pekerjaan administratif perencanaan selalu lebih memakan waktu daripada memikirkan bagaimana anak-anak akan belajarnya nanti.</p>
<p>Kali ini saya mencoba jalur yang berbeda. Saya buka aplikasi AI, ketik permintaan yang cukup rinci: modul ajar untuk materi aritmetika sosial kelas VII, satu pertemuan, dengan konteks pasar dan warung — sesuatu yang dekat dengan kehidupan anak-anak di sekitar sekolah kami. Dalam waktu kurang dari satu menit, draf lengkap muncul di layar. Capaian pembelajaran, kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, lembar kerja, rubrik penilaian. Semuanya ada.</p>]]></description></item><item><title>Jurnal Mengajar yang Pindah ke Layar: Cerita di Balik Teach</title><link>https://site.pakgun.web.id/jurnal-mengajar-digital-teach/</link><pubDate>Sun, 25 Oct 2026 06:45:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/jurnal-mengajar-digital-teach/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/jurnal-mengajar-digital-teach/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Kalau Bapak/Ibu guru pernah ditanya kepala sekolah atau pengawas, &ldquo;Coba tunjukkan jurnal mengajarnya?&rdquo;, saya yakin banyak dari kita yang langsung buru-buru membuka lemari, mencari satu-satu buku tulis yang dimulai semangat di Juli lalu perlahan jadi tipis catatannya di September, lalu nyaris kosong menjelang ujian. Saya dulu persis begitu. Dan artikel ini adalah cerita kenapa jurnal mengajar saya sekarang tinggal di sebuah aplikasi web bernama Teach — yang, lagi-lagi, saya bangun sendiri.</p>]]></description></item></channel></rss>