<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penilaian - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/penilaian/</link><description>Penilaian - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Wed, 28 Oct 2026 20:01:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/penilaian/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Malam Mengoreksi, Saya Membaca Cerita di Balik Angka</title><link>https://site.pakgun.web.id/malam-mengoreksi-cerita-di-balik-angka/</link><pubDate>Wed, 28 Oct 2026 20:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/malam-mengoreksi-cerita-di-balik-angka/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/malam-mengoreksi-cerita-di-balik-angka/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Malam itu saya mengoreksi ulangan di meja makan, setelah rumah mulai sepi. Tumpukan kertasnya tidak terlalu tebal, sekitar tiga puluh lembar, tetapi saya sudah berniat menyelesaikannya secepat mungkin: buka lembar, cocokkan jawaban, tulis angka, lanjut ke lembar berikutnya. Saya mengira pekerjaan malam itu hanyalah soal kecepatan. Ternyata, semakin lama saya membaca, semakin pelan tangan saya bergerak.</p>
<p>Lembar pertama sampai kelima berjalan sesuai rencana. Jawaban benar saya beri tanda centang, jawaban salah saya lingkari, angka saya tulis di pojok atas. Tetapi pada lembar keenam, saya berhenti. Seorang murid menjawab soal pertama dan kedua dengan benar, lalu salah pada soal ketiga yang justru paling mudah. Kalau hanya melihat angka akhirnya, ia tampak seperti murid yang pengetahuannya setengah-setengah. Kalau saya membaca urutan jawabannya, ceritanya berbeda: ia mengerjakan soal sulit dengan tenang, lalu tergesa-gesa di soal mudah, seolah ingin cepat selesai. Bukan karena ia tidak bisa, melainkan karena ia terburu-buru. Malam itu saya sadar, angka yang saya tulis di pojok kertas tidak pernah menceritakan kecepatan itu.</p>]]></description></item><item><title>Rubrik yang Mulai Jujur: AI sebagai Rekan Penyusun Penilaian, Bukan Juri</title><link>https://site.pakgun.web.id/rubrik-penilaian-yang-jujur-ai-sebagai-rekan-penyusun/</link><pubDate>Mon, 26 Oct 2026 06:10:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/rubrik-penilaian-yang-jujur-ai-sebagai-rekan-penyusun/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/rubrik-penilaian-yang-jujur-ai-sebagai-rekan-penyusun/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Ada satu pertanyaan yang menahun di kepala saya bertahun-tahun: kalau dua guru mengoreksi jawaban uraian yang sama, berapa besar kemungkinan mereka memberi nilai yang sama? Pengalaman saya bilang: tidak sebesar yang kita harapkan. Dan pengalaman itu bukan sekadar dengar-dengar. Pernah suatu kali, di sebuah kegiatan MGMP, kami diminta mengoreksi salinan jawaban siswa yang sama. Jawaban itu sebenarnya cukup baik — alurnya jelas, tapi perhitungan akhirnya salah satu langkah. Skor dari rekan-rekan di ruangan itu berkisar dari enam sampai delapan koma lima. Dua koma lima poin selisihnya, untuk kertas yang sama persis.</p>]]></description></item><item><title>Dari Jurnal Mengajar Digital ke Narasi Raport: AI sebagai Asisten Kearsipan Guru</title><link>https://site.pakgun.web.id/ai-raport-dari-catatan-observasi/</link><pubDate>Fri, 23 Oct 2026 20:30:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/ai-raport-dari-catatan-observasi/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/ai-raport-dari-catatan-observasi/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Kalau Bapak/Ibu guru kelas atau wali murid, pasti kenal momen ini: sudah malam, meja penuh cangkir kopi yang sudah dingin, dan catatan observasi terbuka di depan. Entinya pendek-pendek, steno ala guru yang buru-buru: &ldquo;Aulia tanya cara&rdquo; — tanya cara apa? Kapan tanggalnya? Soal nomor berapa? Catatan yang bulan September terasa jelas itu, di bulan Desember, berubah menjadi teka-teki yang harus saya pecahkan sendiri sebelum bisa menulis satu paragraf narasi raport.</p>]]></description></item><item><title>Malam Koreksi yang Panjang: Kenapa Saya Akhirnya Bangun GezyCBT</title><link>https://site.pakgun.web.id/gezycbt-dari-koreksi-manual-ke-cbt/</link><pubDate>Thu, 22 Oct 2026 23:10:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/gezycbt-dari-koreksi-manual-ke-cbt/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/gezycbt-dari-koreksi-manual-ke-cbt/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Jam sembilan malam, meja makan di rumah sudah lama tidak berfungsi sebagai meja makan. Di atasnya ada dua tumpukan lembar jawaban ulangan tengah semester, pulpen merah, dan secangkir teh yang entah sudah dingin sejak kapan. Dua kelas, enam puluh empat siswa, sepuluh soal — delapan pilihan ganda dan dua uraian. Saya mulai koreksi sambil setengah menonton istrinya menyiapkan bekal besok, dan begitu sadar jam dinding sudah menunjukkan setengah dua belas.</p>]]></description></item></channel></rss>