<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengalaman Mengajar - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/pengalaman-mengajar/</link><description>Pengalaman Mengajar - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Fri, 23 Oct 2026 20:30:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/pengalaman-mengajar/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Dari Jurnal Mengajar Digital ke Narasi Raport: AI sebagai Asisten Kearsipan Guru</title><link>https://site.pakgun.web.id/ai-raport-dari-catatan-observasi/</link><pubDate>Fri, 23 Oct 2026 20:30:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/ai-raport-dari-catatan-observasi/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/ai-raport-dari-catatan-observasi/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Kalau Bapak/Ibu guru kelas atau wali murid, pasti kenal momen ini: sudah malam, meja penuh cangkir kopi yang sudah dingin, dan catatan observasi terbuka di depan. Entinya pendek-pendek, steno ala guru yang buru-buru: &ldquo;Aulia tanya cara&rdquo; — tanya cara apa? Kapan tanggalnya? Soal nomor berapa? Catatan yang bulan September terasa jelas itu, di bulan Desember, berubah menjadi teka-teki yang harus saya pecahkan sendiri sebelum bisa menulis satu paragraf narasi raport.</p>]]></description></item><item><title>Soal Cerita dengan Rasa Lampung: Kenapa Konteks Lokal Mengubah Cara Murid Membaca Soal</title><link>https://site.pakgun.web.id/soal-cerita-konteks-lokal-lampung/</link><pubDate>Fri, 23 Oct 2026 08:05:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/soal-cerita-konteks-lokal-lampung/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/soal-cerita-konteks-lokal-lampung/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Minggu lalu, di kelas VII-C, terjadi hal yang jarang terjadi: kelas saya berdebat. Bukan debat soal jawaban — itu sering. Mereka berdebat tentang <em>soalnya sendiri</em>. Krisna, yang biasanya duduk di bangku paling belakang sambil pura-pura sibuk, tiba-tiba berdiri dan berkata, &ldquo;Pak, ini mah bukan tiga ribuan. Sigek paket pegesek di Kurtu sekarang lima ribuan, kalau yang kecil tiga ribu.&rdquo;</p>
<p>Saya membiarkan debat itu berjalan dua menit penuh sebelum saya turun tangan. Dan selama dua menit itu, saya melihat sesuatu yang dulu tidak pernah saya lihat di kelas ini: tujuh delapan murid ikut bicara, merujuk pengalaman mereka sendiri, tentang sebuah soal aritmetika sosial.</p>]]></description></item><item><title>Bilangan yang Keberatan: Mencicil Pemahaman Pecahan lewar Perkalian Kertas Origami</title><link>https://site.pakgun.web.id/pecahan-lewat-lipat-kertas/</link><pubDate>Thu, 22 Oct 2026 21:10:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/pecahan-lewat-lipat-kertas/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/pecahan-lewat-lipat-kertas/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Ada satu topik yang setiap tahun selalu membuat saya menyiapkan mental ekstra sebelum masuk kelas: pecahan. Bukan pecahan biasa yang cuma soal dibaca, tapi pecahan yang dioperasikan — terutama perkalian. Kalau Bapak/Ibu guru pernah mengajar materi ini, pasti tahu persis raut wajah murid ketika papan tulis penuh dengan $\frac{2}{3} \times \frac{3}{4}$. Ada yang pasrah menyalin rumus, ada yang langsung menyerah sebelum perang dimulai, dan ada pula yang bertanya dengan lirih, &ldquo;Pak, kok dikali tapi hasilnya malah lebih kecil?&rdquo;</p>]]></description></item></channel></rss>