<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pemuda - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/pemuda/</link><description>Pemuda - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Wed, 28 Oct 2026 08:57:40 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/pemuda/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa — dan Ribuan Cara Bicara: Renungan Hari Sumpah Pemuda</title><link>https://site.pakgun.web.id/renungan-hari-sumpah-pemuda-2026/</link><pubDate>Wed, 28 Oct 2026 08:57:40 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/renungan-hari-sumpah-pemuda-2026/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/renungan-hari-sumpah-pemuda-2026/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Setiap tanggal 28 Oktober, sekolah-sekolah di seluruh Indonesia mengenakan pakaian adat, naik ke panggung, melafalkan tiga ikrar yang lahir dari Kongres Pemuda II tahun 1928. Saya ikut merindukan seremoni itu — tidak ada salahnya. Bendera harus dikibarkan, lagu harus dinyanyikan, sejarah harus diceritakan ulang.</p>
<p>Tapi jujur, di sela upacara tahun-tahun sebelumnya, ada pertanyaan kecil yang selalu menghantui saya: <em>kalau esok hari para siswa lupa intonasinya ketika melafalkan Sumpah, apakah mereka juga lupa maknanya?</em> Karena sejarah mencatat, ikrar 28 Oktober 1928 itu tidak lahir di atas panggung. Ia lahir dari ruang-ruang yang jauh lebih sederhana: ruang rapat yang pengap, diskusi di koran-koran muda, pertemuan pemuda dari berbagai penjuru yang saling belajar mendengar satu sama lain. Sumpah itu adalah <em>karya</em> anak muda, bukan sekadar <em>bacaan</em> anak sekolah.</p>]]></description></item></channel></rss>