<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Matematika SMP - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/matematika-smp/</link><description>Matematika SMP - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Tue, 27 Oct 2026 21:30:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/matematika-smp/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Tangga Konversi Satuan yang Digambar Proporsional: TikZ untuk Meter, Liter, dan Gram</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-tangga-konversi-satuan/</link><pubDate>Tue, 27 Oct 2026 21:30:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-tangga-konversi-satuan/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-tangga-konversi-satuan/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Ada satu gambar yang hampir pasti muncul setiap tahun ajaran baru di kelas saya: tangga konversi satuan. Tangga dengan anak tangga km–hm–dam–m–dm–cm–mm, lengkap dengan panah ke bawah &ldquo;kali&rdquo; dan panah ke atas &ldquo;bagi&rdquo;. Gambar itu saya warisi dari guru saya dulu, dan mungkin Bapak/Ibu juga mengenalnya sejak SD.</p>
<p>Masalahnya, tahun lalu saya menyadari sesuatu yang memalukan. Ketika saya menggambar tangga itu langsung di papan tulis dengan tangan, proporsinya berantakan. Anak tangga &ldquo;km&rdquo; ke &ldquo;hm&rdquo; terlihat sama panjangnya dengan anak tangga &ldquo;m&rdquo; ke &ldquo;dm&rdquo;. Padahal jarak km ke m itu seribu kali, sedangkan m ke dm hanya sepuluh kali. Saya juga pernah melihat soal di lembar kerja yang menggambar segmen garis untuk 2 km dan 50 m dengan panjang yang hampir sama. Belum lagi label yang meleset: ada gambar tangga di buku fotokopian yang urutannya hm–km–dam karena hasil scan miring.</p>]]></description></item><item><title>Menakar 60 Derajat tanpa Busur Derajat: Konstruksi Sudut Spesial dengan Jangka dan TikZ</title><link>https://site.pakgun.web.id/konstruksi-sudut-60-derajat-tikz/</link><pubDate>Mon, 26 Oct 2026 08:30:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/konstruksi-sudut-60-derajat-tikz/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/konstruksi-sudut-60-derajat-tikz/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Di kelas VII semester genap lalu, saya membagikan busur derajat plastik untuk mengukur sudut. Lima menit kemudian, satu kelompok mengangkat tangan: &ldquo;Pak, sudut ini 45 atau 135?&rdquo; Saya mendekat, dan memang dua kemungkinan itu sama masuk akalnya kalau siswa lupa memperhatikan dari mana skala mulai. Di kelompok lain ada yang membaca 60 derajat sebagai 120, dan yang paling menghibur: busur derajat yang diputar-putar seperti kompas karena &ldquo;skalanya kebalik, Pak&rdquo;.</p>
<p>Itu bukan kelalaian siswa. Busur derajat memang alat yang licik: dua skala berlawanan arah, garis nol yang harus sejajar kaki sudut, titik pusat yang harus tepat di vertex. Banyak hal yang bisa salah sebelum angkanya terbaca. Maka pada pertemuan berikutnya saya mencoba jalan lain — sengaja menyita (dengan izin) semua busur derajat, dan menyuruh siswa membuat sudut 60 derajat hanya dengan jangka dan penggaris tanpa skala.</p>]]></description></item><item><title>Dari Angka ke Huruf: Miskonsepsi Pertama Siswa Saat Bertemu Aljabar</title><link>https://site.pakgun.web.id/dari-angka-ke-huruf-aljabar-pertama/</link><pubDate>Fri, 23 Oct 2026 09:10:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/dari-angka-ke-huruf-aljabar-pertama/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/dari-angka-ke-huruf-aljabar-pertama/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Kalau ditanya bagian mana dari matematika SMP yang paling bikin wajah murid saya berubah — dari semangat jadi bingung — jawabannya bukan trigonometri, bukan juga statistika. Jawabannya: pertemuan pertama dengan huruf.</p>
<p>Di kelas VII, biasanya sekitar bulan November, kami sampai ke bab aljabar. Sebelum bab itu, matematika mereka adalah dunia angka. Empat kali tiga sama dengan dua belas, jelas, beres, bisa dihitung dengan jari kalau terdesak. Lalu tiba-tiba saya menulis di papan: $3x + 5 = 20$. Dan dunia mereka runtuh sedikit.</p>
<p>Tahun ini saya memutuskan untuk tidak langsung memberi aturan. Saya ingin mendengar dulu apa yang sebenarnya terjadi di kepala mereka. Yang saya temukan justru mengajari saya lebih banyak daripada yang saya harapkan.</p>]]></description></item></channel></rss>