<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Luas - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/luas/</link><description>Luas - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Tue, 03 Nov 2026 19:30:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/luas/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Luas Jajargenjang yang Ditemukan dengan Memotong: TikZ untuk Rumus yang Tidak Lalu Diturunkan</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-luas-jajargenjang-memotong/</link><pubDate>Tue, 03 Nov 2026 19:30:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-luas-jajargenjang-memotong/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-luas-jajargenjang-memotong/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Di kelas VII, rumus luas jajargenjang adalah salah satu rumus yang paling cepat &ldquo;sampai&rdquo; dan paling cepat mati. Cepat sampai karena bentuknya ringan: $L = a \times t$, dua huruf saja, lebih pendek dari rumus trapesium. Cepat mati karena dua huruf itu mudah sekali terlepas dari maknanya. Tahun lalu, saat saya memberi soal jajargenjang dengan alas 12 cm dan sisi miring 9 cm, hampir seperempat kelas menghitung $12 \times 9$. Mereka tidak sembarangan — mereka hafal bahwa &ldquo;luas itu alas dikali sisi miring&rdquo;. Angka 12 dan 9 tersedia, jadi dikalikan.</p>]]></description></item><item><title>Pagar yang Sama, Luas yang Berbeda: Menjelajah Keliling Tetap dengan TikZ</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-keliling-sama-luas-berbeda/</link><pubDate>Sun, 01 Nov 2026 15:00:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-keliling-sama-luas-berbeda/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Minggu lalu, di kelas VIII, saya memberikan satu soal yang saya kira akan selesai dalam lima menit. &ldquo;Bapak punya kawat pagar sepanjang 24 meter. Kawat itu dipakai mengelilingi kebun berbentuk persegi panjang. Berapa panjang dan lebarnya supaya luas kebun paling besar?&rdquo; Kelas langsung ramai menghitung, dan memang lima menit kemudian jawaban mulai berdatangan. Panjang 5, lebar 7, luas 35 meter persegi — itu yang paling banyak muncul. Jawaban itu benar menurut kunci. Tetapi ketika saya bertanya balik, &ldquo;Siapa yang bisa meyakinkan saya bahwa tidak ada kebun lain yang luasnya lebih dari 35?&rdquo;, kelas yang tadinya ramai tiba-tiba hening.</p>
<p>Ada yang menyerah dengan senyum, ada yang membuka lagi bukunya, dan seorang siswa di baris belakang bergumam, &ldquo;Lha, yang ditanya toh cuma satu jawaban, Pak.&rdquo; Di situlah letak masalahnya. Selama ini kebanyakan soal yang mereka kenal memang berhenti di satu jawaban: hitung, tulis, selesai. Soal tadi berbeda — ia tidak meminta satu jawaban, melainkan meminta keyakinan bahwa tidak ada jawaban lain yang lebih baik. Dan keyakinan semacam itu tidak lahir dari satu kali hitungan; ia lahir dari melihat seluruh kemungkinannya.</p>]]></description></item><item><title>Luas Sama, Keliling Beda: Mengajari Siswa Membedakan Persegi Panjang dengan TikZ</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-keliling-luas-persegi-panjang/</link><pubDate>Mon, 26 Oct 2026 23:36:33 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-keliling-luas-persegi-panjang/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-keliling-luas-persegi-panjang/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Kamis pekan lalu, di kelas VII, saya memberikan soal yang terlihat sangat sederhana: &ldquo;Gambarlah dua persegi panjang yang luasnya sama, yaitu 40 cm persegi.&rdquo; Saya pikir anak-anak akan selesai dalam lima menit. Ternyata yang muncul lebih dulu bukan jawaban, melainkan kebingungan yang justru menyegarkan hati saya. Rani mengangkat tangan, &ldquo;Pak, kalau luasnya sama, berarti kelilingnya juga sama dong, Pak?&rdquo;</p>
<p>Pertanyaan itu bukan pertanyaan bodoh. Itu pertanyaan yang jujur dari anak yang selama ini diajarkan dua kata — keliling dan luas — selalu berdampingan di halaman buku yang sama, tanpa pernah diberi kesempatan untuk bertengkar.</p>]]></description></item></channel></rss>