<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Lampung Tengah - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/lampung-tengah/</link><description>Lampung Tengah - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Sun, 25 Oct 2026 08:01:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/lampung-tengah/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Di Pasar Pagi, Saya Bertemu Murid yang Berbeda</title><link>https://site.pakgun.web.id/bertemu-murid-di-pasar-pagi/</link><pubDate>Sun, 25 Oct 2026 08:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/bertemu-murid-di-pasar-pagi/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/bertemu-murid-di-pasar-pagi/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Setiap guru punya peta kelasnya sendiri: siapa yang cepat paham, siapa yang suka bertanya, siapa yang diam-diam mengerjakan soal sambil menunduk. Peta itu berguna, tapi ia juga menipu. Saya baru sadar betapa sempitnya peta itu pada suatu pagi Minggu di pasar Punggur, ketika saya bertemu murid-murid saya di tempat yang tidak ada papan tulisnya sama sekali.</p>
<p>Pagi itu saya hanya berniat membeli sayur. Di lapak pertama, penjualnya menyapa saya, &ldquo;Pak Gun, cari apa?&rdquo; Saya menoleh, dan yang berdiri di balik timbangan itu adalah Rani, murid kelas VIII saya. Di kelas, Rani termasuk yang pendiam — kalau disuruh ke depan, jalannya pelan seperti orang yang sedang menahan napas. Tapi di lapak itu ia menimbang cabai dengan satu tangan, menyebut harga tanpa melihat catatan, dan menghitung kembalian dua pembeli sekaligus tanpa kalkulator. Cepat, tepat, dan sambil tersenyum.</p>]]></description></item></channel></rss>