<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Konteks Lokal - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/konteks-lokal/</link><description>Konteks Lokal - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Fri, 23 Oct 2026 08:05:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/konteks-lokal/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Soal Cerita dengan Rasa Lampung: Kenapa Konteks Lokal Mengubah Cara Murid Membaca Soal</title><link>https://site.pakgun.web.id/soal-cerita-konteks-lokal-lampung/</link><pubDate>Fri, 23 Oct 2026 08:05:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/soal-cerita-konteks-lokal-lampung/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/soal-cerita-konteks-lokal-lampung/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Minggu lalu, di kelas VII-C, terjadi hal yang jarang terjadi: kelas saya berdebat. Bukan debat soal jawaban — itu sering. Mereka berdebat tentang <em>soalnya sendiri</em>. Krisna, yang biasanya duduk di bangku paling belakang sambil pura-pura sibuk, tiba-tiba berdiri dan berkata, &ldquo;Pak, ini mah bukan tiga ribuan. Sigek paket pegesek di Kurtu sekarang lima ribuan, kalau yang kecil tiga ribu.&rdquo;</p>
<p>Saya membiarkan debat itu berjalan dua menit penuh sebelum saya turun tangan. Dan selama dua menit itu, saya melihat sesuatu yang dulu tidak pernah saya lihat di kelas ini: tujuh delapan murid ikut bicara, merujuk pengalaman mereka sendiri, tentang sebuah soal aritmetika sosial.</p>]]></description></item></channel></rss>