<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dilatasi - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/dilatasi/</link><description>Dilatasi - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Wed, 28 Oct 2026 16:20:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/dilatasi/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Membesuk dengan Jujur: Menggambar Dilatasi dan Faktor Skalanya dengan TikZ</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-dilatasi-faktor-skala/</link><pubDate>Wed, 28 Oct 2026 16:20:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-dilatasi-faktor-skala/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-dilatasi-faktor-skala/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Dari keempat jenis transformasi yang diajarkan di SMP, dilatasi adalah materi yang paling sering saya gambarkan setengah-setengah. Pergeseran mudah — panah dari titik asal ke titik bayangan, jaraknya sama, selesai. Pencerminan pun masih bisa diselamatkan dengan penggaris: gambar garis cermin, ukur jaraknya, taruh titiknya. Rotasi butuh lebih banyak kerja, tapi setidaknya saya tahu persis apa yang harus dijaga. Dilatasi? Kalau ditanya murid, &ldquo;Pak Gun, dikali berapa yang tadi?&rdquo; — sering kali saya harus berhenti dan menghitung ulang dari gambar saya sendiri, karena gambar itu memang tidak menyimpan jawabannya. Segitiga saya gambar dua kali, yang kedua lebih besar, titik pusat saya taruh entah di mana, dan faktor skalanya ada di kepala saya saja, tidak pernah tampil di papan.</p>]]></description></item></channel></rss>