<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Berpikir Kritis - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/berpikir-kritis/</link><description>Berpikir Kritis - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Wed, 28 Oct 2026 20:30:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/berpikir-kritis/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Tutor yang Menolak Memberi Jawaban: Ketika AI Saya Suruh Bertanya Balik</title><link>https://site.pakgun.web.id/ai-tutor-bertanya-balik/</link><pubDate>Wed, 28 Oct 2026 20:30:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/ai-tutor-bertanya-balik/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/ai-tutor-bertanya-balik/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Seorang murid kelas VII, sebut saja Rani, berjalan ke meja saya sambil membawa ponselnya. Di layarnya ada percakapan dengan chatbot AI tentang soal operasi hitung campuran: $12 - 3 \times 4 + 6$. Ia sudah memotret soalnya, menyalinnya, dan mesin itu menjawab dengan langkah-langkah yang rapi — lengkap sampai hasil akhirnya, 6. Rani cuma ingin memastikan: &ldquo;Pak Gun, ini bener nggak?&rdquo; Jawabannya benar. Tapi ada yang mengganjal di kepala saya sejak beberapa minggu: dalam percakapan itu, siapa yang sebenarnya belajar? Rani tidak menghitung apa pun. Ia hanya mengangkut soal dari buku ke mesin, lalu mengangkut jawaban dari mesin ke bukunya. Ia menjadi kurir yang rajin.</p>]]></description></item><item><title>Menjadi Guru untuk Temannya Sendiri: Kegiatan Memperbaiki Pekerjaan Orang Lain di Kelas Saya</title><link>https://site.pakgun.web.id/saling-memeriksa-pekerjaan-teman/</link><pubDate>Sun, 25 Oct 2026 07:00:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/saling-memeriksa-pekerjaan-teman/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/saling-memeriksa-pekerjaan-teman/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Ada satu momen yang membuat saya mulai percaya pada kegiatan yang sekarang jadi rutinitas di kelas saya. Waktu itu kelas VII sedang mengerjakan latihan operasi bilangan berpecahan. Salah satu siswa saya — sebut saja Raka — biasanya paling cepat selesai, paling percaya diri, dan paling malas menulis langkah. Hari itu saya tidak mengoreksi pekerjaannya. Saya memberikan pekerjaan teman sebangkunya, tulisan tangan acak-acak milik Dinda, dan berkata, &ldquo;Periksa ini. Kalau ada yang salah, tandai dan jelaskan kenapa salah.&rdquo;</p>
<p>Raka mengembalikan kertas itu sepuluh menit kemudian dengan wajah bingung. &ldquo;Pak, saya tidak nemu yang salah,&rdquo; katanya. Padahal di baris kedua, $\frac{2}{3} + \frac{1}{4}$ sudah dijawab menjadi $\frac{3}{7}$ — kesalahan klasik yang biasanya ia lakukan sendiri. Ia tidak melihatnya karena selama ini ia tidak pernah benar-benar <em>membaca</em> pekerjaan matematika. Ia hanya mengerjakannya.</p>]]></description></item><item><title>Jawaban yang Salah tapi Percaya Diri: Mengajari Siswa Tidak Langsung Percaya pada AI</title><link>https://site.pakgun.web.id/ai-jawaban-salah-tapi-percaya-diri/</link><pubDate>Sat, 24 Oct 2026 19:30:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/ai-jawaban-salah-tapi-percaya-diri/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/ai-jawaban-salah-tapi-percaya-diri/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Kemarin sore, seusai jam pelajaran, dua siswa kelas VIII saya menyodorkan laptop mereka. Mereka sedang mengerjakan latihan di rumah, menabrak satu soal sistem persamaan linear, tidak paham, lalu — seperti yang sudah jadi kebiasaan anak-anak sekarang — menyalin soalnya ke sebuah chatbot AI. Jawaban datang dalam hitungan detik: rapi, bertahap, diakhiri kalimat tegas &ldquo;Jadi, nilai $x = 3$ dan $y = 1$.&rdquo;</p>
<p>Masalahnya, jawaban yang benar adalah $x = 1$ dan $y = 3$. Chatbot itu salah arah di tengah jalan: saat memindahkan satu suku antar ruas, tandanya tidak berubah. Kesalahannya kecil, khas manusia, dan sama sekali tidak menurunkan rasa percaya dirinya. Baris terakhirnya tetap ditulis dengan nada seolah-olah tidak ada kemungkinan lain.</p>
<p>Saya tidak marah pada AI-nya. Saya justru bersyukur. Karena di depan saya, dua anak remaja sedang mengalami sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan lewat ceramah: bahwa mesin yang terdengar sangat meyakinkan bisa saja salah.</p>]]></description></item></channel></rss>