<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Asesmen - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/asesmen/</link><description>Asesmen - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Sun, 01 Nov 2026 20:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/asesmen/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Kisi-Kisi yang Membaca Otak Penulisnya: AI sebagai Rekan Menyusun Kisi-Kisi</title><link>https://site.pakgun.web.id/kisi-kisi-yang-membaca-otak-penulisnya/</link><pubDate>Fri, 30 Oct 2026 23:20:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/kisi-kisi-yang-membaca-otak-penulisnya/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/kisi-kisi-yang-membaca-otak-penulisnya/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Kalau ada satu dokumen sekolah yang paling sering saya kerjakan terlambat, itu kisi-kisi penilaian sumatif. Formatnya sederhana: nomor soal, materi, indikator, level kognitif, bentuk soal. Tapi menyusunnya itu seperti merapikan rumah sebelum tamu datang — semua orang tahu pentingnya, tidak ada yang benar-benar menikmati prosesnya.</p>
<p>Pekan lalu kisi-kisi untuk sumatif tengah semester kelas VII jatuh tempo hari Senin. Ahad malam jam sembilan, saya menatap dokumen yang baru terisi dua baris dari tiga puluh. Di titik seperti itu dulu saya akan memilih jalan pintas: menyalin kisi-kisi tahun lalu dan mengganti nama materi. Malam itu saya mencoba jalan lain. Saya membuka percakapan dengan AI dan mengajaknya bekerja — bukan menyerahkan pekerjaannya.</p>]]></description></item><item><title>Ketika AI Jadi Murid Pertama di Kelas Saya</title><link>https://site.pakgun.web.id/menguji-soal-dengan-ai/</link><pubDate>Thu, 22 Oct 2026 04:30:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/menguji-soal-dengan-ai/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/menguji-soal-dengan-ai/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Beberapa semester lalu saya mengalami kejadian yang memalukan, sekaligus berharga. Soal ulangan yang menurut saya sudah sangat jelas ternyata gagal di kelas: hampir separuh siswa mengartikan sesuatu yang sama sekali berbeda dari maksud saya. Bukan karena konsepnya sulit — kalimat soalnya yang bermakna ganda.</p>
<p>Sejak saat itu, sebelum satu lembar ulangan pun saya cetak, saya selalu mengujinya ke satu &ldquo;murid&rdquo; yang tidak pernah mengeluh dan tidak pernah tersinggung: AI yang saya minta berperan sebagai murid kelas VIII.</p>]]></description></item><item><title>Kartu Kecil di Pintu Kelas: Exit Ticket yang Mengubah Lima Menit Terakhir Saya</title><link>https://site.pakgun.web.id/exit-ticket-lima-menit-terakhir/</link><pubDate>Sun, 01 Nov 2026 20:00:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/exit-ticket-lima-menit-terakhir/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/exit-ticket-lima-menit-terakhir/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Ada satu kebiasaan di kelas saya yang dulu selalu berjalan sama setiap hari: bel berbunyi, saya menutup materi buru-buru, siswa mengepak tas sambil setengah mendengarkan, lalu semua pulang. Keesokan harinya, barulah di awal pelajaran, saya menanyakan &ldquo;kemarin sampai mana ya?&rdquo; — dan sering kali jawabannya membuat saya kaget. Yang saya kira sudah paham ternyata masih tersangkut di langkah kedua; yang saya kira bingung ternyata sudah jalan jauh lebih depan.</p>
<p>Persoalannya sederhana: kabar dari kelas itu datang terlalu malam. Saya baru tahu apa yang terjadi di kepala mereka setelah kelasnya sendiri sudah selesai.Padahal, sebenarnya, jendela untuk menangkap kabar itu selalu terbuka setiap hari — hanya lima menit terakhir sebelum bel, dan selembar kertas kecil.</p>
<p>Alatnya sering disebut <em>exit ticket</em>, atau kartu keluar. Di kelas saya kini bentuknya sangat sederhana: kertas HVS dipotong dua, jadi separuh lembar per anak. Tiga pertanyaan singkat di papan tulis, siswa menjawab di kertas itu, dan kertasnya diserahkan ke meja depan sebelum keluar kelas. Lima menit. Tidak dinilai, tidak diberi tanda merah, tidak dicatat di leger. Hanya dibaca.</p>]]></description></item><item><title>Lembar Soal Lama yang Kembali Hidup: Digitalisasi Bank Soal dengan Bantuan AI</title><link>https://site.pakgun.web.id/digitalisasi-bank-soal-ai/</link><pubDate>Sun, 01 Nov 2026 20:00:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/digitalisasi-bank-soal-ai/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/digitalisasi-bank-soal-ai/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Di lemari kantor MGMP ada satu kardus yang sebenarnya sudah lama saya pandang dengan perasaan campur aduk. Isinya lembar soal—ulangan harian, soal UAS, soal olimpiade tingkat kecamatan, sampai soal ulangan kenaikan kelas dari tahun 2013. Semuanya tulisan tangan di atas formulir fotokopian, sebagian sudah menguning, dan ada satu halaman yang di pojoknya masih ada coretan kopi. Setiap kali ada guru baru yang bertanya &ldquo;Pak, ada soal tahun lalu tidak?&rdquo;, jawaban saya selalu sama: &ldquo;Ada, tapi harus gali dulu.&rdquo;</p>
<p>Gali. Itu kata yang tepat. Karena arsip soal yang tidak bisa dicari pada dasarnya sama dengan tidak ada.</p>
<p>Kali ini saya memutuskan untuk benar-benar menggalinya sekalian—tapi bukan dengan mengetik ulang semuanya sendiri. Saya mengajak AI. Artikel ini adalah cerita bagaimana prosesnya berjalan, apa saja yang mengejutkan saya, dan di mana letak garis yang menurut saya tidak boleh dilewati.</p>]]></description></item><item><title>Soal yang Punya Banyak Jawaban: Perjalanan Saya Mencoba Soal Terbuka</title><link>https://site.pakgun.web.id/soal-terbuka-banyak-jawaban/</link><pubDate>Sat, 31 Oct 2026 15:00:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/soal-terbuka-banyak-jawaban/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/soal-terbuka-banyak-jawaban/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Ada satu keyakinan yang saya bawa sejak masa kuliah: soal matematika yang baik adalah soal yang punya jawaban pasti. Satu kunci, satu langkah yang benar, satu angka yang harus muncul di akhir. Keyakinan itu terbawa puluhan soal yang saya tulis di ujian setiap semester. Kunci jawaban saya rapi — lima soal pilihan ganda, lima soal uraian, setiap soal punya jawaban yang bisa saya coret-coret di kertas pengawas dan titipkan di rapor.</p>
<p>Lalu di suatu kelas VIII, setelah materi bangun datar, saya sengaja mencoba sesuatu yang berbeda. Bukan karena ide itu datang dari buku metode, tapi karena saya kehabisan bahan. Sisa waktu bel lima menit, dan saya iseng menulis satu soal di papan: <em>Gambarlah persegi panjang yang luasnya 24 cm², panjang sisinya bilangan bulat. Ada berapa gambar yang bisa kalian buat?</em></p>]]></description></item><item><title>Lingkaran yang Tertutup: Ketika Data CBT dan Jurnal Mengajar Akhirnya Bertemu</title><link>https://site.pakgun.web.id/lingkaran-umpan-balik-cbt-jurnal-ai/</link><pubDate>Sat, 31 Oct 2026 01:35:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/lingkaran-umpan-balik-cbt-jurnal-ai/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/lingkaran-umpan-balik-cbt-jurnal-ai/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Minggu lalu saya mengalami satu momen yang sebenarnya sudah lama saya cari: seluruh data mengajar saya untuk pertama kalinya saling berbicara. Bukan secara puitis, tetapi secara harfiah. Hasil ulangan CBT kelas VIII menunjukkan satu butir soal tentang penjumlahan bentuk aljabar dijawab benar hanya oleh 31% siswa. Di layar sebelah, jurnal mengajar saya untuk kelas yang sama, minggu yang sama, tercatat satu kalimat refleksi pendek: <em>“Saya buru-buru hari itu, contoh hanya dua, langsung latihan kelompok.”</em></p>
<p>Dua data dari dua aplikasi yang saya bangun sendiri. Selama ini mereka hidup berjauhan — CBT di satu tempat, jurnal di tempat lain. Ternyata begitu ditaruh berdampingan, keduanya saling menjelaskan dengan cara yang tidak bisa dilakukan masing-masing sendirian.</p>]]></description></item><item><title>ANBK Datang, Jantung Saya Berdebar: Simulasi CBT Sederhana Sebelum Hari H</title><link>https://site.pakgun.web.id/anbk-simulasi-cbt-sederhana/</link><pubDate>Fri, 30 Oct 2026 20:00:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/anbk-simulasi-cbt-sederhana/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/anbk-simulasi-cbt-sederhana/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Beberapa pekan lalu saya menerima pengumuman yang membuat jadwal mengajar saya sedikit kacau: kelas delapan akan mengikuti ANBK. Asesmen Nasional Berbasis Komputer. Saya membaca surat itu dua kali, bukan karena bahasanya sulit, tapi karena saya langsung membayangkan wajah siswa-siswa saya ketika mereka nanti duduk di depan layar.</p>
<p>Bukan soal materi yang membuat saya cemas. Sebagian besar konten ANBK menguji literasi dan numerasi — hal-hal yang selama ini sudah kita asah di kelas. Yang membuat saya cemas adalah hal yang lebih sederhana dan sering diremehkan: <strong>apakah mereka bisa mengoperasikan ujiannya sendiri?</strong></p>]]></description></item><item><title>Angka Salah yang Bisa Bercerita: Membaca Pola Kesalahan Siswa dari Hasil CBT</title><link>https://site.pakgun.web.id/ai-pola-kesalahan-cbt/</link><pubDate>Mon, 26 Oct 2026 09:30:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/ai-pola-kesalahan-cbt/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/ai-pola-kesalahan-cbt/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Koreksi ulangan harian bab bilangan berpangkat kemarin menghasilkan sesuatu yang tidak biasa. Dari tiga puluh dua lembar jawaban, dua puluh satu siswa salah di soal yang sama — soal nomor tujuh, tentang $(-2)^4$ berbanding $-2^4$. Saya berdiri di depan tumpukan kertas dan menyadari sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi setiap kali koreksi, tapi jarang saya gali lebih dalam: kesalahan itu tidak tersebar acak. Mereka menggerombol. Ada kelompok yang salah di tanda, ada kelompok yang salah di urutan operasi, dan sisanya salah karena tergesa membaca soal.</p>
<p>Dulu, temuan seperti ini biasanya berhenti jadi keluhan di kepala saya sendiri. &ldquo;Cih, tanda masih ketukar-ketukar juga.&rdquo; Lalu pekan berikutnya saya mengajar ulang seluruh bab dari awal, padahal yang perlu diperbaiki cuma satu titik kebingungan. Mubazir — untuk saya, yang waktu terbatas, dan untuk siswa yang sudah paham sebagian besar materi tapi dipaksa mengulang semuanya.</p>
<p>Malam itu saya membuka GezyCBT dan berpikir: data jawaban salah ini sebenarnya sudah saya simpan berbulan-bulan. Tinggal saya tidak pernah membacanya sebagai satu kesatuan.</p>]]></description></item><item><title>Menjadi Guru untuk Temannya Sendiri: Kegiatan Memperbaiki Pekerjaan Orang Lain di Kelas Saya</title><link>https://site.pakgun.web.id/saling-memeriksa-pekerjaan-teman/</link><pubDate>Sun, 25 Oct 2026 07:00:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/saling-memeriksa-pekerjaan-teman/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/saling-memeriksa-pekerjaan-teman/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Ada satu momen yang membuat saya mulai percaya pada kegiatan yang sekarang jadi rutinitas di kelas saya. Waktu itu kelas VII sedang mengerjakan latihan operasi bilangan berpecahan. Salah satu siswa saya — sebut saja Raka — biasanya paling cepat selesai, paling percaya diri, dan paling malas menulis langkah. Hari itu saya tidak mengoreksi pekerjaannya. Saya memberikan pekerjaan teman sebangkunya, tulisan tangan acak-acak milik Dinda, dan berkata, &ldquo;Periksa ini. Kalau ada yang salah, tandai dan jelaskan kenapa salah.&rdquo;</p>
<p>Raka mengembalikan kertas itu sepuluh menit kemudian dengan wajah bingung. &ldquo;Pak, saya tidak nemu yang salah,&rdquo; katanya. Padahal di baris kedua, $\frac{2}{3} + \frac{1}{4}$ sudah dijawab menjadi $\frac{3}{7}$ — kesalahan klasik yang biasanya ia lakukan sendiri. Ia tidak melihatnya karena selama ini ia tidak pernah benar-benar <em>membaca</em> pekerjaan matematika. Ia hanya mengerjakannya.</p>]]></description></item><item><title>Kalkulator di Saku Siswa: Musuh atau Alat yang Belum Kami Ajari Pakai?</title><link>https://site.pakgun.web.id/kalkulator-di-saku-siswa/</link><pubDate>Sat, 24 Oct 2026 22:40:00 +0800</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/kalkulator-di-saku-siswa/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/kalkulator-di-saku-siswa/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Semester lalu, saat kelas VIII sedang mengerjakan latihan bangun ruang, saya menangkap seorang siswa mengeluarkan HP dari saku celana dengan gerakan yang jelas terlatih — agak merunduk, satu tangan menutupi layar. Saya pikir dia sedang mengobrol atau membuka media sosial. Ternyata bukan. Dia membuka aplikasi kalkulator, menghitung $3{,}14 \times 7 \times 7 \times 12$ dengan serius, lalu menutup HP lagi dan melanjutkan menulis di buku.</p>
<p>Anehnya, saya tidak marah sebesar yang saya bayangkan. Yang saya rasakan malah agak sedih sekaligus tersindir. Selama ini kelas saya memang melarang kalkulator. Kalau ada yang hitungannya meleset, teguran pertama biasanya cukup. Tapi malam itu di rumah saya bertanya-tanya: siswa itu sebenarnya sedang berbuat apa? Dia sedang <em>memilih alat</em>. Dia memutuskan bahwa perhitungan panjang itu tidak layak menghabiskan tenaganya, dan dia butuh jawaban yang benar agar kesimpulan soal luas permukaan tabungnya tidak salah karena faktor selain pemahaman. Secara matematika, keputusan itu sebenarnya cukup matang. Sayangnya dia melakukannya secara diam-diam, karena di kelas saya alat itu ilegal.</p>]]></description></item></channel></rss>