<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Aritmetika Sosial - Label - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/tags/aritmetika-sosial/</link><description>Aritmetika Sosial - Label - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Tue, 27 Oct 2026 08:01:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/tags/aritmetika-sosial/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Untung, Rugi, dan Diskon: Mengajar Aritmetika Sosial dari Warung dan Kantin Sekolah</title><link>https://site.pakgun.web.id/untung-rugi-diskon-aritmetika-sosial/</link><pubDate>Tue, 27 Oct 2026 08:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/untung-rugi-diskon-aritmetika-sosial/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/untung-rugi-diskon-aritmetika-sosial/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Ada satu bab yang selalu membuat kelas VII saya ramai: aritmetika sosial. Begitu saya menulis kata &ldquo;untung&rdquo; dan &ldquo;diskon&rdquo; di papan tulis, tangan-tangan terangkat bukan untuk bertanya rumus, melainkan untuk bercerita. Ada yang membantu ibunya berjualan gorengan, ada yang pernah menemani ayahnya menawar harga di pasar, ada yang menghitung-hitung uang saku untuk membeli sepatu yang sedang diskon. Bab ini tidak perlu saya jual dengan cerita pembuka yang dibuat-buat, karena ceritanya sudah ada di kepala anak-anak.</p>
<p>Masalahnya, keramaian itu sering berhenti di cerita. Begitu masuk ke soal — harga beli, harga jual, persen untung, persen rugi — sebagian anak kembali bingung. Mereka tahu warung bisa untung, tetapi tidak tahu angka mana yang harus dikurangi dari angka mana. Setelah beberapa tahun mengajar bab ini, saya menemukan bahwa pangkal kebingungannya bukan pada persennya. Pangkalnya ada pada satu hal yang sering saya lewati terlalu cepat: anak belum benar-benar membedakan harga beli dan harga jual.</p>]]></description></item></channel></rss>