Soal yang Sengaja Tidak Kami Selesaikan Hari Itu

Saya punya kebiasaan lama yang dulu saya kira tanda guru yang baik: setiap soal yang saya tulis di papan tulis harus selesai sebelum bel berbunyi. Kalau satu soal masih menggantung ketika jam pelajaran hampir habis, rasanya seperti ada pekerjaan rumah yang saya tinggalkan begitu saja. Saya akan mempercepat penjelasan, mempersingkat tanya jawab, dan menutup soal itu dengan jawaban akhir yang rapi, meskipun saya tahu sebagian murid hanya menyalinnya tanpa sempat benar-benar memikirkannya.
Suatu hari, kebiasaan itu terpaksa saya langgar. Soal yang sedang kami kerjakan ternyata lebih alot dari perkiraan saya, dan bel sudah tinggal lima menit lagi. Saya menatap papan tulis, menatap kelas, lalu memutuskan sesuatu yang belum pernah saya lakukan: saya membiarkan soal itu tetap di sana, belum selesai, dan berkata, “Kita lanjutkan besok. Bawa pulang soal ini di kepala kalian.”
1 Soal Dua Puluh Lidi
Soal hari itu sebenarnya sederhana. Saya membawa sebungkus lidi dan berkata kepada kelas, “Kita punya dua puluh batang lidi. Setiap persegi panjang yang kita buat harus memakai semua lidi itu sebagai kelilingnya. Persegi panjang mana yang luasnya paling besar?”
Murid-murid mulai mencoba dengan cara mereka sendiri. Ada yang menggambar persegi panjang panjang dan kurus, satu kali sembilan, lalu menghitung luasnya sembilan. Ada yang mencoba dua kali delapan, luasnya enam belas. Ada yang mencoba tiga kali tujuh, luasnya dua puluh satu. Kelas menjadi ramai dengan cara yang saya sukai: bukan ramai karena ribut, melainkan ramai karena semua orang sedang mencoba sesuatu.
Lalu bel berbunyi. Kami baru sampai di empat kali enam, luasnya dua puluh empat, dan belum ada yang mencoba lima kali lima. Di hari-hari biasa, saya pasti sudah menuliskan jawaban akhirnya di papan tulis dan menutup pelajaran dengan kalimat, “Jadi, yang terbesar adalah persegi.” Hari itu saya tidak melakukannya. Saya hanya mengucapkan satu kalimat sebelum mereka keluar, “Besok kita lihat, apakah ada yang lebih besar dari dua puluh empat.”
2 Malam yang Bekerja Diam-Diam
Saya tidak memberi tugas tertulis apa pun malam itu. Tidak ada lembar soal yang harus dikumpulkan, tidak ada nilai yang menunggu. Saya hanya meninggalkan soal itu menggantung, dan sejujurnya saya pulang dengan perasaan tidak enak. Saya khawatir murid-murid akan melupakannya begitu saja, atau menganggap pelajaran hari itu tidak selesai sehingga tidak penting.
Keesokan paginya, kekhawatiran saya terbukti salah. Seorang murid datang menghampiri saya sebelum pelajaran dimulai dan berkata pelan, “Pak, saya coba di rumah. Lima kali lima itu dua puluh lima, Pak. Lebih besar dari dua puluh empat.” Murid lain menyahut dari bangkunya, “Saya juga coba enam kali empat, sama saja dua puluh empat.” Ada yang bercerita ia menggambar persegi panjangnya di kertas bekas bersama adiknya, ada yang mengaku awalnya mengira semakin panjang sisinya semakin besar luasnya, sampai ia sendiri yang menemukan bahwa perhitungannya tidak mendukung dugaan itu.
Yang paling saya ingat bukanlah jawaban akhirnya. Yang paling saya ingat adalah wajah mereka saat bercerita. Mereka tidak sedang melaporkan tugas. Mereka sedang menceritakan sesuatu yang mereka temukan sendiri. Soal itu sudah pindah dari papan tulis ke kepala mereka, dan semalam suntuk ia bekerja diam-diam tanpa saya suruh.
3 Yang Berubah Bukan Jawabannya
Tentu saja, jawaban akhirnya tidak berubah: persegi lima kali lima memang yang paling luas, dua puluh lima, di antara semua persegi panjang dengan keliling dua puluh. Itu bukan penemuan baru dalam matematika. Namun yang berubah adalah hubungan murid-murid saya dengan soal itu. Ketika saya selalu menutup soal di hari yang sama, murid belajar bahwa soal adalah sesuatu yang harus cepat dibereskan. Ketika satu soal dibiarkan menginap semalam, murid belajar bahwa soal juga boleh dipikirkan pelan-pelan, dibawa pulang, dicoba lagi, dan didiskusikan tanpa takut salah.
Saya juga belajar sesuatu tentang diri saya. Selama ini saya mengira pelajaran yang baik adalah pelajaran yang tuntas, dengan semua soal terjawab dan semua langkah tertulis rapi. Ternyata, ada jenis ketuntasan yang lain: pelajaran yang meninggalkan rasa penasaran. Soal yang tidak selesai bukan berarti pelajaran yang gagal. Kadang ia justru menjadi pelajaran yang paling lama diingat, karena ia memberi murid sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh jawaban yang terburu-buru, yaitu waktu untuk berpikir.
Sejak hari itu, saya tidak lagi memaksakan semua soal selesai dalam satu pertemuan. Bukan berarti saya sengaja menggantung semua soal, tentu saja. Sebagian besar soal tetap kami selesaikan bersama di kelas, seperti biasa. Tetapi sesekali, saya sengaja menyisakan satu soal yang bagus untuk dibawa pulang di kepala murid-murid saya. Saya memilih soal yang tidak terlalu sulit, tetapi cukup menggoda untuk dicoba lagi: soal yang jawabannya bisa ditebak, tetapi pembuktiannya perlu dicoba sendiri.
4 Penutup: Biarkan Satu Soal Menginap
Kalau ada guru yang membaca tulisan ini dan merasa gelisah setiap kali meninggalkan soal yang belum selesai, saya mengerti perasaan itu. Saya pun dulu begitu. Kita terbiasa mengukur keberhasilan pelajaran dari apa yang sudah tertutup rapi di akhir jam. Tetapi pengalaman soal dua puluh lidi itu mengajari saya bahwa ada hal yang justru tumbuh dari yang belum tertutup: rasa ingin tahu.
Soal itu tidak perlu selalu selesai hari itu juga. Kadang, yang paling dibutuhkan murid bukanlah jawaban yang cepat, melainkan satu malam untuk memikirkannya sendiri. Dan ketika mereka kembali keesokan harinya dengan jawaban yang mereka temukan sendiri, rasa bangga di wajah mereka jauh lebih berharga daripada jawaban rapi yang saya tuliskan terburu-buru di papan tulis.




