Daftar Isi

Satu Kalimat dari Murid yang Mengubah Cara Saya Mengajar

Ada kalimat yang sudah bertahun-tahun saya simpan, bukan di buku catatan, melainkan di kepala. Kalimat itu keluar dari mulut seorang murid kelas delapan, pelan, hampir seperti bisikan, di akhir sebuah jam pelajaran yang sebenarnya biasa-biasa saja. “Pak, saya sebenarnya mau bertanya, tapi saya takut jawabannya salah.”

Saya masih ingat posisi saya waktu itu: berdiri di dekat papan tulis, spidol masih di tangan, bel istirahat tinggal beberapa menit lagi. Saya hampir menjawab dengan kalimat standar guru: “Tidak apa-apa, Nak, salah itu biasa.” Untung saya menahan diri. Karena kalau dipikir-pikir, kalimat itu bukan pertanyaan. Itu pengakuan. Anak itu sedang memberi tahu saya sesuatu yang jauh lebih penting daripada soal yang sedang kami bahas: di kelas saya, bertanya terasa berisiko.

Selama ini saya merasa kelas saya sudah cukup aman. Saya selalu bilang di awal semester bahwa tidak ada pertanyaan bodoh, bahwa salah itu bagian dari belajar. Saya pikir, kalau kalimat itu sudah diucapkan, maka suasana itu otomatis tercipta. Ternyata tidak. Anak-anak tidak menilai kelas dari apa yang gurunya katakan di awal semester. Mereka menilai dari apa yang terjadi setiap kali seseorang benar-benar salah di depan kelas.

Saya mulai mengingat-ingat kembali. Pernahkah saya tertawa kecil saat seorang murid menjawab dengan yakin lalu keliru? Pernahkah saya, karena mengejar waktu, memotong jawaban yang berbelit-belit dengan kalimat, “Bukan begitu, yang benar begini”? Pernahkah saya memuji jawaban yang cepat dan tepat dengan begitu antusias, sampai-sampai jawaban yang lambat dan ragu terasa seperti tidak ada nilainya? Jawabannya, sejujurnya, pernah. Bukan karena niat buruk, melainkan karena kebiasaan. Dan kebiasaan guru, sekecil apa pun, dibaca oleh murid jauh lebih keras daripada kata-kata pembuka semester.

Sejak hari itu saya mengubah satu hal kecil: cara saya menyambut jawaban yang salah. Bukan dengan pura-pura menganggapnya benar, melainkan dengan menunjukkan di mana letak pikirannya yang menarik. “Jalan pikiranmu sampai langkah kedua ini bagus. Di langkah ketiga ada yang perlu kita periksa bersama.” Kalimat seperti itu tidak memakan waktu lebih dari sepuluh detik, tetapi efeknya terasa dalam hitungan minggu.

Hal kedua yang berubah adalah cara saya memandang pertanyaan itu sendiri. Dulu saya menganggap keberanian bertanya sebagai sifat bawaan: ada anak yang pemberani, ada yang pemalu, dan tugas guru hanyalah menunggu yang pemalu itu berubah. Sekarang saya memandangnya sebagai keterampilan yang bisa dilatih, sama seperti keterampilan menghitung.

Maka saya mulai memberi latihan bertanya, bukan sekadar kesempatan bertanya. Di awal pelajaran, saya kadang meminta setiap kelompok menuliskan satu hal yang belum mereka pahami dari materi kemarin, tanpa nama penulisnya. Pertanyaan-pertanyaan itu saya bacakan dan kita bahas bersama. Tidak ada yang tahu siapa penulisnya, jadi tidak ada yang perlu malu. Lama-lama, anak-anak mulai berani menuliskan namanya sendiri. Bahkan ada yang mulai mengangkat tangan langsung, tanpa perantara kertas.

Ada juga kebiasaan kecil lain yang saya pertahankan sampai sekarang: saya tidak pernah langsung menjawab pertanyaan dengan jawaban jadi. Saya mengembalikannya dulu ke kelas. “Menurut kalian, apa yang membuat soal ini terasa sulit?” Sering kali, teman sebangkunya yang menjawab, dan penanya merasa lega karena ternyata ia tidak sendirian. Rasa “aku satu-satunya yang tidak paham” adalah musuh terbesar keberanian bertanya, dan obatnya ternyata sederhana: membuktikan bahwa kebingungan itu milik bersama.

Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Saya menghabiskan bertahun-tahun belajar cara mengajar yang baik: membaca buku, mengikuti pelatihan, membuat media. Lalu satu kalimat dari seorang anak berusia empat belas tahun mengubah praktik saya lebih dalam daripada semua itu. Bukan karena kalimat itu berisi teori baru, melainkan karena ia jujur. Murid sering kali tahu persis apa yang kurang dari kelas kita, hanya saja mereka jarang punya kesempatan — atau keberanian — untuk mengatakannya.

Saya tidak tahu apakah murid itu masih ingat kalimatnya. Mungkin ia sudah lupa. Ia sekarang sudah lulus, dan saya sudah mengajar angkatan-angkatan baru sesudahnya. Tetapi setiap kali saya membuka pelajaran, saya masih mengingat wajahnya yang ragu-ragu itu. Ia menjadi pengingat bahwa tugas pertama guru bukanlah menyelesaikan materi tepat waktu, melainkan memastikan tidak ada anak yang merasa bodoh karena bertanya.

Jadi, kalau hari ini ada rekan guru yang membaca tulisan ini, saya hanya ingin menitipkan satu hal. Di sela-sela target kurikulum dan tumpukan administrasi, sempatkan bertanya kepada murid-murid kita — bukan tentang materi, melainkan tentang kelas itu sendiri. Tanyakan apakah mereka merasa aman untuk salah. Jawabannya mungkin tidak selalu nyaman didengar. Tetapi justru dari jawaban yang tidak nyaman itulah, kelas kita bisa menjadi tempat yang lebih baik untuk belajar.

Dan kalau ada murid yang membaca ini: bertanyalah. Guru yang baik tidak akan pernah menganggap pertanyaanmu bodoh. Kalaupun ada yang tertawa, itu bukan karena pertanyaanmu, melainkan karena mereka lupa bahwa mereka dulu juga pernah tidak tahu.