Daftar Isi

Saya Merekam Penjelasan Lima Menit untuk Murid yang Tidak Hadir

Suatu pagi, sebelum bel pertama berbunyi, seorang murid menitipkan pesan lewat temannya: ia tidak bisa masuk karena demam. Pelajaran hari itu adalah kelanjutan dari materi kemarin — tentang menyelesaikan persamaan linear satu variabel — dan ia sudah tertinggal satu pertemuan sebelumnya karena urusan keluarga. Saya tahu apa yang akan terjadi besok: ia duduk di bangkunya, menatap papan tulis, dan pura-pura mengerti sambil menyalin jawaban teman sebelahnya.

Saya pernah mencoba mengulang penjelasan untuk murid yang tertinggal di sela-sela pelajaran. Hasilnya selalu sama: kelas yang sudah paham menunggu, murid yang tertinggal tetap bingung karena penjelasannya terburu-buru, dan saya kehabisan waktu untuk latihan. Mengulang di akhir jam pun sulit, karena murid lain sudah pulang atau asyik mengobrol. Saya butuh cara supaya penjelasan itu sampai ke murid yang tidak hadir tanpa mengganggu jam pelajaran.

Jawabannya ternyata sederhana sekali: saya merekam penjelasan itu dengan HP saya sendiri, lima menit saja, lalu mengirimkannya ke grup kelas.

Rekaman yang saya buat bukan video yang bagus. Tidak ada pengeditan, tidak ada musik latar, tidak ada tulisan yang muncul di layar. Saya hanya meletakkan HP di atas tumpukan buku, mengarahkan kameranya ke kertas tempat saya menulis, lalu menjelaskan seperti sedang mengajar satu orang murid di depan saya.

Lima menit adalah batas yang saya pegang. Lebih dari itu, rekamannya jarang ditonton sampai habis. Dalam lima menit saya hanya membahas satu hal: satu contoh soal yang dikerjakan langkah demi langkah, atau satu konsep yang kemarin membuat kelas kebingungan. Kalau materinya panjang, saya membaginya menjadi dua rekaman, bukan satu rekaman sepuluh menit.

Suara saya di rekaman itu juga suara yang sama seperti di kelas — kadang saya berhenti sejenak, kadang saya mengulang satu kalimat karena merasa belum jelas. Saya tidak merekam ulang hanya karena ada jeda atau salah ucap kecil. Justru itu yang membuat murid merasa sedang diajar, bukan sedang menonton tayangan. Beberapa murid pernah berkata, rekaman itu terasa seperti saya sedang mengajar di samping mereka, bukan di depan kelas yang ramai.

Saya melakukannya sepulang sekolah, ketika kelas sudah sepi. Pertama, saya memilih satu hal yang paling penting dari pelajaran hari itu — biasanya soal yang paling banyak ditanyakan murid, atau langkah yang paling sering keliru. Saya menuliskan soalnya di kertas, lalu menyiapkan jawaban langkah demi langkah di kepala saya, bukan di kertas lain, supaya penjelasan di rekaman tetap mengalir.

Kedua, saya meletakkan HP dalam posisi mendatar, kameranya menghadap kertas, dan memastikan cahaya dari jendela cukup terang supaya tulisan terbaca. Saya memeriksa sekali dengan merekam tiga detik dan memutarnya kembali: apakah tulisan terbaca, apakah suara saya terdengar jelas. Kalau sudah, saya merekam penjelasan itu dalam satu kali pengambilan.

Ketiga, saya mengirim rekaman itu ke grup kelas dengan satu kalimat pengantar: “Untuk yang tidak hadir hari ini, ini penjelasan soal nomor dua. Ditonton dulu, besok kita lanjutkan bersama.” Saya tidak mengirimnya secara pribadi ke murid yang bersangkutan, karena sering kali murid lain juga membutuhkannya — ada yang hadir tetapi belum paham, ada yang catatannya tidak lengkap. Satu rekaman ternyata membantu lebih dari satu orang.

Perubahan pertama saya rasakan pada murid yang tidak hadir itu sendiri. Keesokan harinya ia datang dengan membawa pertanyaan, bukan kebingungan. Ia sudah menonton rekamannya dua kali di rumah, mencoba mengerjakan soal yang sama di bukunya, dan bertanya pada bagian yang masih belum ia pahami. Saya tidak lagi mengulang dari awal; saya hanya menjawab satu pertanyaan itu, dan pelajaran bisa berjalan.

Perubahan kedua datang dari murid yang hadir. Beberapa dari mereka ternyata ikut menonton rekaman itu di rumah, sebagai cara mengulang pelajaran. Ada yang menonton sambil mengerjakan PR, ada yang menonton ulang sebelum ulangan. Saya tidak pernah menyuruh mereka melakukannya; mereka melakukannya sendiri karena rekamannya memang dibuat dengan bahasa yang sama seperti di kelas.

Perubahan ketiga justru pada diri saya. Membuat rekaman lima menit memaksa saya memilih dengan tegas: apa satu hal yang paling penting dari pelajaran hari ini? Kalau saya tidak bisa menjelaskannya dalam lima menit, mungkin pelajaran itu memang terlalu padat dan perlu saya pecah. Rekaman itu menjadi cermin kecil bagi cara saya mengajar.

Pertama, saya hanya merekam penjelasan saya sendiri dan tulisan saya sendiri. Tidak ada wajah murid, tidak ada suara murid, tidak ada nama murid yang disebut di dalam rekaman. Rekaman itu tentang materi, bukan tentang siapa yang tidak hadir. Kalau sebuah rekaman membutuhkan contoh dari pekerjaan murid, saya menulis ulang contoh itu dengan angka yang berbeda.

Kedua, saya tidak memaksa semua murid menonton. Rekaman itu saya tawarkan, bukan saya wajibkan. Murid yang tidak punya HP atau kuotanya terbatas tidak boleh merasa tertinggal dua kali — sekali karena tidak hadir, sekali lagi karena tidak bisa menonton. Karena itu, penjelasan yang sama tetap saya sampaikan singkat di awal pelajaran berikutnya, dan lembar latihannya tetap saya bagikan di kelas seperti biasa.

Ketiga, saya tidak merekam setiap hari. Saya hanya merekam ketika ada murid yang tidak hadir pada pelajaran yang memang sulit diulang, atau ketika sebuah soal ternyata membingungkan banyak murid. Kalau setiap pelajaran saya rekam, murid akan menganggap rekaman itu pengganti kehadiran, dan saya sendiri akan kehabisan waktu untuk merekam. Teknologi ini saya pakai sebagai jembatan, bukan sebagai pengganti kelas.

Sejak saya mulai merekam penjelasan lima menit itu, murid yang tidak hadir tidak lagi datang dengan wajah pasrah dan buku kosong. Ia datang dengan pertanyaan. Dan bagi saya, murid yang datang dengan pertanyaan adalah murid yang sebenarnya sudah mulai belajar — bahkan sebelum ia duduk di bangkunya.