Daftar Isi

Pertanyaan yang Tidak Saya Jawab Hari Itu

Pertanyaannya datang di menit-menit terakhir pelajaran, dari siswa yang biasanya diam: “Pak, kalau pembilangnya nol, kok hasilnya nol? Bukannya nggak boleh dibagi nol?”

Kelihatannya sepele. Tapi dia bertanya tentang sesuatu yang tidak saya siapkan jawabannya — bukan sekadar “pembagian dengan nol tidak terdefinisi” yang bisa saya lafal, melainkan mengapa $\frac{0}{5}$ boleh tapi $\frac{5}{0}$ tidak. Dan di detik itu saya sadar: kalau saya menjawab asal-asalan, saya akan mengajari dia bahwa pertanyaan bagus boleh dijawab setengah hati.

Saya bilang, “Pertanyaan bagus. Jujur, Pak perlu waktu menyiapkan jawabannya — bukan karena tidak tahu, tapi karena kalau saya jawab asal, kalian yang rugi. Senin kita bahas terbuka, dan yang ingin ikut menyelidiki, mari.”

Di dalam hati ada suara kecil yang tidak nyaman: guru kok tidak bisa jawab langsung? Suara itu yang biasanya membuat kita memilih jawaban instan yang lapisnya tipis. Tapi saya terus terang menolaknya — dan malam itu saya benar-benar duduk, membuka buku, dan menyelidiki ulang seperti siswa.

Senin datang, dan saya mulai bukan dengan jawaban, tapi dengan model konkret: “Empat kelereng dibagi ke nol orang — berarti apa?” Diam. “Nol orang menerima kelereng, jadi pembagiannya tidak terjadi. Sedangkan nol kelereng dibagi lima orang — semua dapat nol, pembagiannya jelas.”

Lalu siswa yang bertanya minggu lalu itu mengangkat tangan: “Berarti yang tidak boleh itu baginya tidak ada kejadiannya, Pak?” — dan di titik itu pembagian dengan nol berhenti menjadi aturan hafalan dan menjadi hal yang masuk akal. Diskusinya meluber ke mengapa kalkulator menampilkan error, ke mengapa matematikawan memilih kata “tidak terdefinisi” daripada “salah”, dan ke pertanyaan-pertanyaan baru yang saya tidak semuanya bisa jawab di tempat.

Dua hal berubah setelah kejadian sederhana itu.

Pertama, pertanyaan meningkat — bukan menurun. Saya tadinya khawatir mengakui “Pak perlu menyelidiki dulu” akan membuat siswa meragukan kompetensi saya. Kenyataannya justru sebaliknya: mereka jadi berani bertanya hal-hal yang lebih dalam, karena tahu pertanyaan bagus tidak akan dibantai jawaban asal-asalan. Kelas yang takut bertanya adalah kelas yang pernah kecewa oleh jawabannya sendiri.

Kedua, saya jadi punya kebiasaan baru: daftar pertanyaan yang belum terjawab. Sekarang ada buku kecil di meja saya berisi pertanyaan siswa yang belum terjawab tuntas. Beberapa saya bawa ke forum guru, beberapa saya selidiki sendiri di rumah, beberapa justru menjadi bahan diskusi di pertemuan berikutnya. Buku itu, jujur saja, membuat saya tetap jadi murid — dan itu bukan kelemahan; itu syarat untuk tetap berkembang.

Tidak semua pertanyaan harus dijawab saat itu juga. Tiga hal yang saya pegang sekarang: (1) jangan menjawab asal supaya terlihat tahu — siswa menciumnya lebih cepat dari dugaan kita; (2) kalau perlu waktu, katakan dengan jujur dan tepati janjinya — janji yang ditepati membangun kepercayaan lebih dari seribu jawaban cepat; (3) ubah pertanyaan yang belum terjawab menjadi proyek bersama — “kita selidiki Senin” terdengar seperti petualangan, bukan kekalahan.

Pertanyaan yang tidak saya jawab hari itu ternyata memberi pelajaran lebih besar daripada jawaban apa pun: bahwa boleh saja guru tidak tahu, asal tidak berhenti mencari tahu.