Daftar Isi

Ketika Murid Menjelaskan Lebih Baik daripada Saya

Pelajaran itu sebenarnya sudah saya siapkan dengan rapi. Materinya skala. Saya sudah menuliskan pengertiannya di papan tulis, lengkap dengan contoh soal dan langkah-langkahnya: jarak pada gambar dibagi jarak sebenarnya, samakan satuannya, sederhanakan. Semua urut, semua bersih, semua bisa disalin ke buku catatan dengan cantik. Saya merasa pelajaran hari itu akan berjalan mulus, karena tidak ada satu pun langkah yang saya lewatkan.

Tetapi wajah-wajah di depan saya berkata lain. Sebagian murid mengangguk, tetapi anggukan yang pelan, seperti orang yang mengangguk karena tidak enak hati menolak. Sebagian lagi menatap papan tulis dengan dahi berkerut, pensilnya berhenti di tengah kalimat. Saya mengulang penjelasan saya dengan kalimat yang hampir sama, hanya lebih lambat, dan berharap pengulangan itu cukup. Ternyata tidak. Ada jarak antara penjelasan yang benar dan penjelasan yang sampai, dan hari itu saya sedang berdiri tepat di jarak itu.

Di tengah kebuntuan itu, seorang murid dari bangku tengah mengangkat tangan. Ia bukan murid yang biasanya paling dulu menjawab. Suaranya pelan, dan kalimatnya tidak memakai satu pun istilah dari papan tulis saya. Ia berkata, kurang lebih begini: skala itu seperti foto yang diperkecil. Orangnya tetap sama, hanya ukurannya yang berubah. Kalau foto itu diperbesar lagi, orangnya tetap orang yang sama juga.

Kelas mendadak riuh dengan suara pelan tanda mengerti. Beberapa murid menoleh ke arahnya, beberapa mengangguk dengan anggukan yang cepat dan ringan, anggukan orang yang baru saja melihat sesuatu menjadi jelas. Seorang murid lain menambahkan, kalau denah rumahnya digambar di kertas, rumahnya tidak ikut mengecil, hanya gambarnya. Saya berdiri di depan kelas, memegang spidol, dan menyadari sesuatu yang agak menggelitik harga diri saya: penjelasan mereka berdua lebih sampai daripada penjelasan saya yang sudah saya susun semalam.

Saya tidak langsung menimpali. Saya mengulang kalimat mereka dengan suara saya sendiri, menuliskan kata foto di samping rumus skala di papan tulis, lalu meminta mereka mengerjakan soal berikutnya dengan cara mereka. Hasilnya berbeda. Bukan karena soalnya menjadi lebih mudah, melainkan karena mereka kini membawa gambaran di kepala, bukan hanya langkah di buku. Skala bukan lagi pembagian dua bilangan yang satuannya harus disamakan, melainkan sesuatu yang pernah mereka lihat setiap kali membuka galeri foto di ponsel.

Malamnya, di rumah, saya memikirkan kejadian itu lebih lama daripada biasanya. Penjelasan saya benar, tetapi ia berangkat dari definisi. Penjelasan murid itu berangkat dari pengalaman. Saya menjelaskan skala dari atas, dari rumus menuju contoh. Mereka menjelaskannya dari bawah, dari benda yang mereka kenal menuju rumus. Arahnya berlawanan, dan ternyata arah dari bawahlah yang lebih dulu membuka pintu.

Ada satu hal lagi yang saya sadari. Penjelasan saya memakai bahasa buku, bahasa yang sudah saya rapikan selama bertahun-tahun mengajar. Bahasa itu akurat, tetapi jaraknya jauh dari percakapan sehari-hari murid. Penjelasan murid memakai bahasa mereka sendiri, dengan perbandingan yang mereka temukan sendiri. Karena itu, penjelasan itu tidak perlu diterjemahkan lagi di kepala teman-temannya. Ia langsung dimengerti, karena ia lahir di bahasa yang sama.

Saya juga belajar bahwa penguasaan materi bukan satu-satunya syarat penjelasan yang sampai. Saya menguasai skala jauh lebih dalam daripada murid itu, tetapi ada syarat lain yang hari itu tidak saya penuhi: kedekatan dengan dunia pendengarnya. Dan kedekatan itu, mau tidak mau, lebih dimiliki oleh teman sebangku mereka sendiri.

Sejak hari itu, saya mengubah satu kebiasaan kecil di kelas. Setiap kali selesai menjelaskan sesuatu dan melihat wajah-wajah yang masih berkerut, saya tidak langsung mengulang penjelasan saya. Saya bertanya, siapa yang punya cara lain untuk menjelaskannya. Pertanyaan itu awalnya disambut diam. Murid-murid sudah terbiasa bahwa penjelasan adalah tugas guru, dan tugas mereka adalah mencatat. Tetapi setelah beberapa kali, ada saja tangan yang terangkat, dan hampir selalu ada kalimat sederhana yang membuat kelas mengangguk dengan anggukan yang cepat dan ringan itu.

Saya juga mulai mencatat penjelasan-penjelasan itu di buku kecil yang saya simpan di laci meja. Bukan untuk dinilai, melainkan untuk dipakai lagi tahun depan, tentu dengan menyebut bahwa kalimat itu dulu datang dari murid saya. Buku kecil itu kini berisi beberapa penjelasan: pecahan sebagai potongan kue yang tidak selalu sama besar, sudut sebagai bukaan pintu, dan tentu saja skala sebagai foto yang diperkecil.

Ada satu aturan yang saya pegang dalam kebiasaan baru ini. Ketika seorang murid menjelaskan dengan bahasanya sendiri, saya tidak buru-buru merapikannya menjadi bahasa buku. Saya membiarkan kalimatnya utuh dulu, sampai teman-temannya mengerti, baru setelah itu saya menambahkan istilah resminya di sampingnya. Urutannya penting. Kalau istilah resmi datang terlalu cepat, kalimat murid itu layu sebelum sempat bekerja. Kalau ia dibiarkan hidup sebentar, istilah resmi justru lebih mudah menempel, karena sudah ada gambaran yang bisa ditempelinya.

Saya menulis ini bukan untuk mengatakan bahwa guru tidak perlu menjelaskan. Menjelaskan tetap tugas saya, dan ada banyak materi yang memang harus saya yang membukakan jalannya. Tetapi hari itu mengajarkan saya bahwa menjelaskan bukan perlombaan tentang siapa yang paling jelas. Kadang, tugas guru justru adalah diam sebentar, memberi ruang, dan membiarkan penjelasan yang lebih dekat dengan murid menemukan jalannya sendiri.

Kelas yang baik, saya kira, bukan kelas yang penjelasannya selalu datang dari depan. Kelas yang baik adalah kelas yang penjelasannya boleh datang dari mana saja, termasuk dari bangku tengah, dari suara pelan, dari kalimat yang tidak memakai satu pun istilah di papan tulis. Dan guru yang baik, barangkali, adalah guru yang tidak keberatan kalah jelas sesekali — asalkan murid-muridnya menang paham.