Mengajar Pelajaran yang Sama di Dua Kelas, Hasilnya Tidak Pernah Sama

Pagi itu saya mengajar pelajaran yang sama di dua kelas yang berbeda, dengan rencana yang sama persis. Materinya membandingkan pecahan. Saya sudah menyiapkan urutannya semalam: membuka dengan potongan kertas, mengajak murid membandingkan setengah dengan sepertiga, lalu mengajak mereka menemukan sendiri bahwa pecahan bisa dibandingkan setelah penyebutnya disamakan. Contoh soalnya sama, kalimat pembukanya sama, bahkan lelucon kecil yang saya selipkan di tengah penjelasan pun sama. Saya melangkah dari kelas pertama ke kelas kedua dengan perasaan ringan, karena saya pikir pekerjaan beratnya sudah selesai di kelas pertama.
Di kelas pertama, semuanya berjalan seperti yang saya bayangkan. Ketika saya mengangkat dua potongan kertas, beberapa murid langsung berseru mana yang lebih besar. Ketika saya menuliskan dua pecahan di papan tulis, seorang murid mengangkat tangan dan berkata bahwa penyebutnya harus disamakan dulu. Diskusi mengalir tanpa saya dorong terlalu keras. Saya hanya perlu mengarahkan sedikit, menuliskan kesimpulan mereka di papan tulis, lalu memberi latihan. Sebagian besar murid mengerjakan latihan itu dengan benar. Saya menutup pelajaran dengan perasaan yang menyenangkan, perasaan seorang guru yang merasa rencananya bekerja.
1 Di Kelas Kedua, Rencana yang Sama Justru Tersendat
Lalu saya masuk ke kelas kedua dengan rencana yang sama, kalimat yang sama, dan potongan kertas yang sama. Tetapi kelas itu menyambut saya dengan suasana yang berbeda. Murid-muridnya baru saja kembali dari lapangan, masih mengatur napas, masih ada yang mencari tempat duduknya. Ketika saya mengangkat potongan kertas itu, tidak ada seruan. Ketika saya menuliskan dua pecahan di papan tulis, tidak ada tangan yang terangkat. Saya mengulang kalimat pembuka saya, sedikit lebih lambat, berharap sambutan yang sama seperti di kelas pertama. Yang saya dapat justru keheningan yang panjang, keheningan yang membuat saya mulai bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan penjelasan saya.
Saya sempat tergoda untuk menyimpulkan dengan cepat. Mungkin kelas ini memang lebih lambat. Mungkin mereka kurang memperhatikan. Pikiran seperti itu datang dengan mudah, dan justru karena mudah, ia patut dicurigai. Saya menahan diri untuk tidak mengucapkannya, bahkan di dalam hati saya mencoba mengoreksinya. Karena sesungguhnya, yang berbeda bukan kecerdasan mereka, melainkan keadaan mereka pada jam itu. Mereka baru saja berolahraga, tubuh mereka masih lelah, dan sebagian dari mereka masih membawa pikiran dari lapangan ke dalam kelas. Pelajaran yang sama jatuh di tanah yang berbeda.
2 Saya Mengubah Jalan, Bukan Tujuannya
Di tengah keheningan itu, saya memutuskan untuk mengubah jalan, bukan tujuannya. Saya meletakkan dulu potongan kertas saya, dan saya mulai dari sesuatu yang lebih dekat dengan keadaan mereka saat itu. Saya bertanya, dari dua botol minum yang ukurannya berbeda, mana yang isinya lebih banyak setelah diminum setengahnya. Tiba-tiba beberapa kepala menoleh. Seorang murid menjawab, lalu murid lain menimpali. Dari botol minum itu, saya menuntun mereka pelan-pelan kembali ke potongan kertas, lalu ke pecahan di papan tulis. Jalannya memutar, waktunya lebih lama, dan kesimpulan akhirnya sampai juga, meski tidak serapi di kelas pertama.
Pelajaran itu selesai dengan hasil latihan yang tidak sebagus kelas pertama, dan saya pulang dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi saya kecewa, karena rencana saya yang rapi tidak berjalan dua kali. Di sisi lain saya lega, karena saya tidak memaksakan rencana itu sampai habis. Saya membayangkan apa yang terjadi seandainya saya tetap ngotot dengan urutan yang sama: saya akan berbicara semakin cepat, murid akan semakin diam, dan kami akan sama-sama pulang dengan perasaan gagal, padahal tidak ada yang gagal, hanya ada rencana yang tidak mau menyesuaikan diri.
3 Bukan Kelasnya yang Salah, Bukan Pula Rencananya
Malamnya, saya memikirkan kedua kelas itu berdampingan. Saya sampai pada kesimpulan yang sederhana, tetapi tidak mudah saya terima pada awalnya: tidak ada kelas yang salah, dan tidak ada pula rencana yang sepenuhnya benar. Rencana mengajar itu seperti peta. Peta yang baik menunjukkan arah, tetapi ia tidak bisa merasakan jalan yang sedang becek, jembatan yang sedang diperbaiki, atau rombongan yang sedang kelelahan. Guru adalah orang yang berjalan di jalan itu bersama muridnya, dan tugasnya adalah membaca keadaan jalan, bukan sekadar mengikuti garis di peta.
Sejak hari itu, saya mengubah cara saya menyiapkan diri. Saya tetap menulis rencana yang sama untuk kelas-kelas yang paralel, tetapi saya menambahkan satu catatan kecil di bawahnya: pintu masuk cadangan. Satu pertanyaan lain, satu contoh lain, satu cara memulai lain, untuk berjaga-jaga seandainya pintu pertama tidak terbuka. Catatan itu jarang saya pakai, tetapi keberadaannya membuat saya lebih tenang. Saya tidak lagi masuk kelas dengan keyakinan bahwa pelajaran akan berjalan sama, melainkan dengan kesiapan bahwa ia boleh berjalan berbeda.
4 Yang Saya Bawa Pulang
Ada satu hal lagi yang saya pelajari dari hari itu, dan ini yang paling lama tinggal di kepala saya. Ketika hasil dua kelas berbeda, godaan terbesar guru adalah membanding-bandingkan mereka. Kelas ini lebih cepat, kelas itu lebih lambat. Perbandingan seperti itu terasa seperti penilaian yang adil, padahal ia menutup pintu belajar yang paling penting: pintu untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi di ruangan itu. Begitu saya berhenti membandingkan kelas, saya mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya luput: jam pelajaran, kelelahan, suasana sebelum masuk kelas, dan satu-dua murid yang hari itu sedang tidak dalam keadaan terbaiknya.
Pelajaran yang sama tidak pernah benar-benar sama, karena kelas tidak pernah benar-benar sama. Dan justru di situlah letak pekerjaan guru yang tidak bisa digantikan oleh rencana yang paling rapi sekalipun: membaca ruangan, mengubah jalan tanpa mengubah tujuan, dan pulang dengan satu pertanyaan baru untuk esok hari. Hari itu, pertanyaan saya sederhana saja: pintu mana yang akan saya ketuk lebih dulu besok pagi.




