Jam Istirahat yang Mengubah Rencana Mengajar Saya

Pagi itu rencana mengajar saya sudah rapi. Terlalu rapi, kalau saya pikirkan lagi sekarang. Di buku agenda, jam ketiga tertulis jelas: membuka pelajaran dengan rumus keliling dan luas persegi panjang, memberi dua contoh di papan tulis, lalu latihan sepuluh soal yang harus selesai sebelum bel berbunyi. Yang tidak saya rencanakan adalah jam istirahat sebelum pelajaran itu dimulai.
Saya keluar kelas untuk sekadar menghirup udara dan menyiapkan spidol. Di lorong, dua murid kelas saya sedang berdiri di ambang pintu, menunjuk-nunjuk ke lantai kelas. Mereka tidak sedang bermain. Yang satu melangkah menyusuri lantai sambil menghitung pelan, yang satu lagi mencatat sesuatu di telapak tangannya dengan pensil. “Kalau mejanya digeser begini, masih muat tidak, ya?” kata yang satu. “Hitung saja ubinnya,” jawab temannya. “Ke sana ada berapa, ke samping ada berapa, terus dikali.”
Saya berhenti. Bukan karena percakapan itu istimewa, melainkan karena saya menyadari sesuatu yang memalukan: apa yang mereka perdebatkan di jam istirahat adalah persis materi yang akan saya ajarkan satu jam kemudian, hanya saja mereka melakukannya tanpa kata “rumus”, tanpa papan tulis, dan tanpa saya suruh. Mereka menghitung ubin lantai karena mereka benar-benar ingin tahu jawabannya, bukan karena ada soal nomor satu sampai sepuluh yang menunggu.
1 Rencana yang Saya Lipat Kembali
Saya kembali ke meja guru dengan perasaan yang sulit dinamai. Ada rasa senang karena murid-murid saya ternyata berpikir secara matematis di luar jam pelajaran, dan ada rasa gelisah karena rencana saya yang rapi tiba-tiba terasa seperti pagar. Kalau saya tetap menjalankan rencana itu apa adanya, saya akan masuk kelas, menuliskan rumus di papan, dan meminta mereka menghafal sesuatu yang sebenarnya baru saja mereka temukan sendiri di lantai kelas. Mereka akan mengerjakannya, mungkin dengan benar, tetapi percakapan di jam istirahat itu akan hilang begitu saja, seolah tidak pernah terjadi.
Maka saya mengambil keputusan kecil yang terasa besar: saya melipat kembali halaman agenda saya. Bukan membuangnya, hanya melipatnya. Latihan sepuluh soal tetap ada di saku saya sebagai cadangan, tetapi pembuka pelajaran saya ganti. Saya tidak akan memulai dari rumus. Saya akan memulai dari lantai kelas yang baru saja mereka hitung.
Keputusan seperti ini tidak selalu nyaman. Guru terbiasa merasa aman ketika alur pelajaran sudah tertulis langkah demi langkah. Mengubah pembuka di menit-menit terakhir berarti saya harus siap bila diskusi berjalan ke arah yang tidak saya duga, siap bila ada murid yang menjawab dengan cara yang belum pernah saya pikirkan, dan siap bila waktu terasa lebih lambat daripada biasanya. Tetapi hari itu saya memilih ketidaknyamanan itu.
2 Pelajaran yang Berjalan Lain
Ketika bel berbunyi, saya tidak langsung menulis rumus. Saya justru bertanya, “Tadi saat istirahat, siapa yang menghitung ubin lantai kelas ini?” Dua murid itu saling pandang, setengah malu, setengah bangga. Saya meminta mereka menceritakan apa yang mereka lakukan, dan kelas pun berubah. Murid-murid lain ikut menoleh ke lantai, ikut menghitung dalam hati, ikut menebak-nebak.
Dari situlah pelajaran berjalan dengan jalannya sendiri. Kami menghitung bersama berapa ubin ke arah panjang dan berapa ubin ke arah lebar. Seorang murid mengusulkan cara cepat: tidak perlu menghitung satu per satu, cukup menghitung satu baris lalu mengalikannya dengan banyak baris. Murid lain menambahkan, kalau mejanya digeser, luas lantai tidak berubah, yang berubah hanya susunannya. Tanpa saya sadari, mereka sedang mengucapkan sendiri pengertian luas persegi panjang, lengkap dengan alasannya.
Baru setelah itu saya menuliskan rumus di papan tulis. Bedanya, rumus itu kini bukan lagi kalimat asing yang harus dihafal, melainkan ringkasan dari sesuatu yang baru saja mereka kerjakan. Latihan sepuluh soal yang saya siapkan akhirnya hanya terpakai sebagian. Sebagian waktu justru habis untuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada di buku: bagaimana kalau ubinnya tidak utuh, bagaimana kalau ruangannya berbentuk huruf L, dan apakah cara yang sama berlaku untuk halaman sekolah. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak saya rencanakan, dan justru itulah yang membuat saya pulang dengan perasaan lega.
3 Yang Saya Bawa Pulang Hari Itu
Sejak hari itu, saya menyimpan satu kebiasaan baru yang sederhana: sebelum masuk kelas, saya meluangkan waktu sejenak untuk mendengarkan. Bukan mendengarkan untuk mencari kesalahan, melainkan mendengarkan untuk mencari pintu masuk. Kadang pintu itu berupa percakapan di jam istirahat, kadang berupa coretan di buku yang tertinggal, kadang berupa pertanyaan iseng yang dilontarkan sambil lalu. Rencana mengajar tetap saya buat, karena guru memang perlu peta. Tetapi saya belajar bahwa peta bukanlah rel kereta. Peta boleh dilipat, jalurnya boleh diubah, selama tujuannya tetap jelas dan murid-murid tetap berjalan bersama saya, bukan diseret oleh saya.
Ada satu hal lagi yang saya pelajari dari jam istirahat itu. Murid yang paling pendiam di kelas saya hari itu ternyata adalah murid yang paling jelas menjelaskan cara menghitung ubin kepada teman-temannya. Di jam pelajaran biasa, ia jarang mengangkat tangan, dan saya sering mengira ia belum paham. Ternyata ia hanya membutuhkan soal yang benar-benar miliknya, soal yang lahir dari rasa ingin tahunya sendiri, bukan dari daftar soal yang saya bagikan. Sejak itu, setiap kali saya merasa sebuah kelas berjalan datar, saya tidak langsung menyalahkan muridnya. Saya bertanya dulu pada diri sendiri: apakah soal hari ini adalah soal mereka, atau hanya soal saya?
Jam istirahat itu sudah lama berlalu, tetapi pelajarannya masih saya pakai sampai sekarang. Rencana yang baik bukanlah rencana yang tidak pernah berubah, melainkan rencana yang cukup lentur untuk memberi tempat pada percakapan yang tidak direncanakan. Dan kadang, pelajaran terbaik di hari itu justru dimulai bukan ketika bel berbunyi, melainkan ketika bel istirahat baru saja selesai dan dua murid masih sibuk menghitung ubin lantai kelas mereka sendiri.




