Daftar Isi

Duduk di Bangku Paling Belakang, Saya Melihat Kelas Saya yang Lain

Pagi itu saya bukan guru yang mengajar. Saya duduk di bangku paling belakang kelas VIII, di kursi yang biasanya ditempati murid yang paling jarang ditanya, untuk mengamati kelas seorang teman sejawat. Dari depan, kelas selalu tampak rapi: semua kepala menghadap papan tulis, semua buku terbuka di halaman yang sama. Dari belakang, ternyata kelas itu jauh lebih ramai dari yang saya kira.

Saya sudah belasan tahun mengajar, tetapi rasanya baru hari itu saya benar-benar melihat kelas dari sudut murid. Papan tulis yang saya kira selalu terbaca jelas, dari bangku belakang ternyata separuh tertutup kepala teman di depan. Suara guru yang saya kira selalu lantang, ternyata bersaing dengan suara kipas angin dan motor yang lewat di jalan depan sekolah. Hal-hal kecil yang tidak pernah saya pikirkan selama berdiri di depan, satu per satu bermunculan dari kursi paling belakang itu.

Selama ini saya mengira murid yang duduk di belakang adalah murid yang tidak peduli. Hari itu anggapan saya runtuh pelan-pelan. Di sebelah kiri saya, seorang murid menyalin setiap kalimat guru dengan teliti, lengkap dengan garis bawah di kata-kata yang ia anggap penting. Di sebelah kanan, murid lain menggambar segitiga di sudut bukunya, lalu menuliskan rumus di sampingnya dengan caranya sendiri — bukan menyalin, melainkan menerjemahkan penjelasan guru ke bahasa gambarnya.

Mereka bukan tidak memperhatikan. Mereka memperhatikan dengan cara yang tidak terlihat dari depan. Dari papan tulis, saya hanya melihat punggung mereka dan mengira mereka diam. Dari belakang, saya melihat tangan mereka bekerja, mata mereka berpindah dari papan ke buku, dan bibir mereka bergerak pelan mengulang kalimat yang baru didengar. Diam ternyata bukan selalu tanda tidak peduli. Kadang diam adalah cara seseorang berpikir.

Ada satu momen yang paling saya ingat. Guru di depan menuliskan sebuah contoh soal, lalu bertanya, “Sudah jelas?” Serentak sebagian kelas menjawab, “Sudah, Pak.” Dari depan, jawaban itu terdengar meyakinkan. Dari belakang, saya melihat tiga murid saling pandang dengan ragu, lalu ikut menjawab “sudah” karena tidak mau menjadi satu-satunya yang berkata belum.

Jawaban serentak itu ternyata bukan ukuran pemahaman. Ia adalah kesepakatan diam-diam: tidak ada yang mau terlihat paling lambat. Saya teringat betapa sering saya sendiri menerima jawaban serentak seperti itu sebagai tanda kelas sudah paham, lalu melangkah ke soal berikutnya dengan tenang. Padahal di barisan belakang, ada murid yang baru menulis setengah dari contoh itu, ada yang masih mencari di mana letak kesalahannya, dan ada yang sudah menyerah diam-diam lalu menunggu bel berbunyi.

Sejak hari itu saya mengubah satu kebiasaan kecil. Saya tidak lagi bertanya “sudah jelas?” kepada seluruh kelas. Saya bertanya kepada satu dua murid secara bergiliran, dengan pertanyaan yang jawabannya menunjukkan pemahaman, bukan sekadar anggukan. “Coba sebutkan langkah pertamanya,” atau “bagian mana yang masih mengganjal?” Pertanyaan seperti itu memang lebih lambat, tetapi jawabannya jujur.

Hal lain yang saya sadari adalah soal jarak. Tulisan saya di papan tulis selama ini saya nilai dari jarak setengah meter, jarak tangan saya sendiri. Dari bangku belakang, jaraknya tiga meter lebih, dan tulisannya mengecil, apalagi untuk murid yang duduk di pojok. Angka 7 yang saya tulis cepat kadang terbaca sebagai 1. Tanda sama dengan yang saya tulis miring kadang terlihat seperti tanda kurang.

Saya pulang hari itu dan menatap papan tulis di kelas saya sendiri dari pintu belakang. Saya mencoba membaca tulisan saya dari sana, dan sebagian memang sulit dibaca. Sejak itu saya menulis lebih besar dan lebih pelan, terutama untuk angka dan simbol. Saya juga lebih sering berhenti sejenak setelah menulis satu baris penting, memberi waktu bagi murid paling belakang untuk menyalinnya. Perubahan kecil yang tidak pernah saya pikirkan selama bertahun-tahun, hanya karena saya tidak pernah berdiri di tempat mereka berdiri.

Sore harinya saya menuliskan tiga catatan di buku kecil saya. Pertama, jangan menilai perhatian murid dari punggungnya. Kedua, jangan percaya jawaban serentak. Ketiga, periksa keterbacaan papan tulis dari kursi paling jauh, bukan dari tempat saya berdiri.

Tiga catatan itu tidak ada di buku pedoman mengajar mana pun, tetapi semuanya mengubah cara saya mengajar keesokan harinya. Saya mulai menyapa murid barisan belakang lebih dulu saat masuk kelas. Saya mulai memberi jeda setelah menulis contoh. Saya mulai menerima jawaban “belum, Pak” sebagai jawaban yang paling berharga di kelas, karena dari sanalah saya tahu di mana letak penjelasan saya yang belum sampai.

Kadang kita tidak memerlukan pelatihan baru atau metode baru untuk menjadi guru yang lebih baik. Kadang kita hanya perlu berpindah tempat duduk: dari depan papan tulis ke bangku paling belakang, dan melihat kelas kita dengan mata murid kita sendiri. Di sana, kelas yang sama ternyata bercerita hal yang berbeda — dan cerita itulah yang selama ini luput saya dengar.