Daftar Isi

Di Pasar Pagi, Saya Bertemu Murid yang Berbeda

Setiap guru punya peta kelasnya sendiri: siapa yang cepat paham, siapa yang suka bertanya, siapa yang diam-diam mengerjakan soal sambil menunduk. Peta itu berguna, tapi ia juga menipu. Saya baru sadar betapa sempitnya peta itu pada suatu pagi Minggu di pasar Punggur, ketika saya bertemu murid-murid saya di tempat yang tidak ada papan tulisnya sama sekali.

Pagi itu saya hanya berniat membeli sayur. Di lapak pertama, penjualnya menyapa saya, “Pak Gun, cari apa?” Saya menoleh, dan yang berdiri di balik timbangan itu adalah Rani, murid kelas VIII saya. Di kelas, Rani termasuk yang pendiam — kalau disuruh ke depan, jalannya pelan seperti orang yang sedang menahan napas. Tapi di lapak itu ia menimbang cabai dengan satu tangan, menyebut harga tanpa melihat catatan, dan menghitung kembalian dua pembeli sekaligus tanpa kalkulator. Cepat, tepat, dan sambil tersenyum.

Di lapak berikutnya saya bertemu Bagas, yang di kelas terkenal karena PR-nya sering tidak selesai. Pagi itu ia sedang membantu ibunya membongkar karung beras. Ia mengangkat, menata, dan ketika ada pembeli menawar, ia menjawab dengan kalimat yang sopan dan masuk akal: “Sudah pas, Bu, berasnya baru datang kemarin.” Saya berdiri agak lama di sana, bukan karena hendak membeli beras, melainkan karena saya sedang menyaksikan murid yang di rapor saya tertulis “kurang bertanggung jawab” sedang bertanggung jawab penuh atas satu lapak dagangan.

Lalu di ujung pasar, saya melihat Sinta — murid yang nilai matematikanya paling sering membuat saya menghela napas — sedang menjaga adiknya yang masih kecil sambil memilih tempe. Ia menggendong adiknya dengan satu tangan, menawar dengan tangan lain, dan sesekali mengusap kepala adiknya supaya tidak rewel. Tidak ada soal cerita di buku yang bisa mengajarkan kesabaran seperti itu, dan tidak ada nilai ulangan yang bisa mengukurnya.

Pulang dari pasar, belanjaan saya terasa lebih berat dari biasanya — bukan karena sayurnya banyak, melainkan karena pikiran saya penuh. Di kelas, saya menilai anak-anak dari apa yang mereka kerjakan dalam empat puluh menit pelajaran, di ruangan yang sama, dengan soal yang sama. Di pasar, saya melihat mereka mengerjakan kehidupan yang soalnya tidak pernah sama: menimbang, menawar, menjaga adik, membantu orang tua, dan semuanya dilakukan tanpa takut salah di depan teman-temannya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa nilai tidak penting. Nilai tetap perlu, karena ia memberi tahu kita di mana anak harus dibantu. Tetapi pasar pagi itu mengingatkan saya bahwa nilai hanyalah satu jendela kecil. Di balik jendela itu ada anak yang bisa menghitung kembalian lebih cepat dari gurunya, anak yang bertanggung jawab atas lapak keluarganya, dan anak yang sabar menjaga adiknya — dan semua itu tidak pernah masuk ke kolom rapor mana pun.

Senin berikutnya, saya mengubah satu hal kecil. Ketika Rani ragu-ragu menjawab soal di depan kelas, saya tidak langsung memintanya cepat. Saya teringat tangannya yang lincah menimbang cabai, dan saya berkata, “Santai saja, Rani. Jawab seperti kamu menghitung kembalian di pasar.” Ia tersenyum — senyum yang sama seperti di lapak — lalu menjawab dengan benar. Bukan karena soalnya tiba-tjadi mudah, melainkan karena untuk pertama kalinya ia merasa bahwa kemampuan yang ia miliki di luar kelas juga diakui di dalam kelas.

Kepada Bagas, saya tidak lagi membuka percakapan dengan PR yang belum selesai. Saya mulai dengan, “Kamu kemarin membantu ibumu di pasar, ya?” Wajahnya berubah. Anak yang biasanya menunduk itu mengangguk dan bercerita, sebentar saja, tentang karung beras yang ia angkat. Setelah itu, PR yang tertunda menjadi lebih mudah dibicarakan — bukan karena saya memarahinya lebih keras, melainkan karena ia merasa dilihat sebagai orang, bukan sekadar sebagai daftar tugas yang belum centang.

Sejak pagi itu, saya punya kebiasaan baru: sesekali berjalan ke pasar, ke warung, ke lapangan, ke tempat-tempat murid saya hidup di luar jam sekolah. Bukan untuk mengawasi, melainkan untuk mengingat. Mengingat bahwa anak yang saya ajar pada pukul tujuh pagi adalah anak yang sama yang pada pukul enam pagi sudah membantu orang tuanya — dan bahwa tugas saya bukan hanya mengisi kepalanya dengan rumus, melainkan menghormati kehidupan yang sudah lebih dulu mengajarinya banyak hal.

Jadi, kalau Bapak dan Ibu guru sempat, cobalah sesekali bertemu murid di luar kelas. Tidak perlu percakapan panjang. Cukup lihat mereka di panggung mereka sendiri. Sering kali, murid yang paling sulit kita pahami di kelas ternyata adalah murid yang paling mudah kita kagumi di luar kelas — dan kekaguman itu, percayalah, akan terbawa kembali ke dalam kelas pada Senin pagi berikutnya.