<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gunanto - Penulis - Gunanto</title><link>https://site.pakgun.web.id/authors/gunanto/</link><description>Gunanto - Penulis - Gunanto</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id</language><copyright>Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.</copyright><lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2026 04:01:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://site.pakgun.web.id/authors/gunanto/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Mengajar Pelajaran yang Sama di Dua Kelas, Hasilnya Tidak Pernah Sama</title><link>https://site.pakgun.web.id/mengajar-pelajaran-sama-dua-kelas-hasil-berbeda/</link><pubDate>Wed, 04 Nov 2026 04:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/mengajar-pelajaran-sama-dua-kelas-hasil-berbeda/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/mengajar-pelajaran-sama-dua-kelas-hasil-berbeda/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Pagi itu saya mengajar pelajaran yang sama di dua kelas yang berbeda, dengan rencana yang sama persis. Materinya membandingkan pecahan. Saya sudah menyiapkan urutannya semalam: membuka dengan potongan kertas, mengajak murid membandingkan setengah dengan sepertiga, lalu mengajak mereka menemukan sendiri bahwa pecahan bisa dibandingkan setelah penyebutnya disamakan. Contoh soalnya sama, kalimat pembukanya sama, bahkan lelucon kecil yang saya selipkan di tengah penjelasan pun sama. Saya melangkah dari kelas pertama ke kelas kedua dengan perasaan ringan, karena saya pikir pekerjaan beratnya sudah selesai di kelas pertama.</p>
<p>Di kelas pertama, semuanya berjalan seperti yang saya bayangkan. Ketika saya mengangkat dua potongan kertas, beberapa murid langsung berseru mana yang lebih besar. Ketika saya menuliskan dua pecahan di papan tulis, seorang murid mengangkat tangan dan berkata bahwa penyebutnya harus disamakan dulu. Diskusi mengalir tanpa saya dorong terlalu keras. Saya hanya perlu mengarahkan sedikit, menuliskan kesimpulan mereka di papan tulis, lalu memberi latihan. Sebagian besar murid mengerjakan latihan itu dengan benar. Saya menutup pelajaran dengan perasaan yang menyenangkan, perasaan seorang guru yang merasa rencananya bekerja.</p>]]></description></item><item><title>Ketika Murid Menjelaskan Lebih Baik daripada Saya</title><link>https://site.pakgun.web.id/murid-menjelaskan-lebih-baik-daripada-saya/</link><pubDate>Wed, 04 Nov 2026 00:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/murid-menjelaskan-lebih-baik-daripada-saya/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/murid-menjelaskan-lebih-baik-daripada-saya/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Pelajaran itu sebenarnya sudah saya siapkan dengan rapi. Materinya skala. Saya sudah menuliskan pengertiannya di papan tulis, lengkap dengan contoh soal dan langkah-langkahnya: jarak pada gambar dibagi jarak sebenarnya, samakan satuannya, sederhanakan. Semua urut, semua bersih, semua bisa disalin ke buku catatan dengan cantik. Saya merasa pelajaran hari itu akan berjalan mulus, karena tidak ada satu pun langkah yang saya lewatkan.</p>
<p>Tetapi wajah-wajah di depan saya berkata lain. Sebagian murid mengangguk, tetapi anggukan yang pelan, seperti orang yang mengangguk karena tidak enak hati menolak. Sebagian lagi menatap papan tulis dengan dahi berkerut, pensilnya berhenti di tengah kalimat. Saya mengulang penjelasan saya dengan kalimat yang hampir sama, hanya lebih lambat, dan berharap pengulangan itu cukup. Ternyata tidak. Ada jarak antara penjelasan yang benar dan penjelasan yang sampai, dan hari itu saya sedang berdiri tepat di jarak itu.</p>]]></description></item><item><title>Tangga yang Makin Curam: Mengajar Gradien dari Anak Tangga untuk Kelas VIII</title><link>https://site.pakgun.web.id/mengajar-gradien-anak-tangga/</link><pubDate>Tue, 03 Nov 2026 20:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/mengajar-gradien-anak-tangga/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/mengajar-gradien-anak-tangga/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Selama bertahun-tahun saya mengajar gradien dengan cara yang paling gampang: menulis rumus $m = \frac{y_2 - y_1}{x_2 - x_1}$ di papan tulis, lalu memberi lima soal titik. Anak-anak mengerjakannya dengan benar. Tetapi ketika saya bertanya, &ldquo;Gradien itu sebenarnya apa, kok bisa menggambarkan curam?&rdquo; jawaban mereka selalu kembali ke rumus. Gradien bagi mereka hanyalah hitungan — bukan sesuatu yang bisa dirasakan.</p>
<p>Sejak itu saya mengubah pembukanya. Saya tidak lagi mulai dari rumus, melainkan dari tangga sekolah. Setiap anak pernah naik tangga, dan setiap anak tahu bedanya tangga yang landai dengan tangga yang curam. Dari pengalaman itulah gradien bisa dijelaskan: gradien adalah ukuran seberapa curam suatu garis, dan tangga adalah alat ukurnya yang paling jujur.</p>]]></description></item><item><title>Satu Lipatan, Dua Kali Lipat: Mengajar Bilangan Berpangkat dari Kertas yang Dilipat</title><link>https://site.pakgun.web.id/mengajar-bilangan-berpangkat-lipatan-kertas/</link><pubDate>Tue, 03 Nov 2026 16:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/mengajar-bilangan-berpangkat-lipatan-kertas/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/mengajar-bilangan-berpangkat-lipatan-kertas/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Dulu, ketika saya mengajar bilangan berpangkat, saya memulainya persis seperti buku: menulis definisi $a^n = a \times a \times \dots \times a$ sebanyak $n$ faktor, lalu meminta anak-anak menghitung $2^5$, $3^4$, dan $5^3$. Mereka mengerjakannya dengan benar. Tetapi seminggu kemudian, ketika saya bertanya mengapa $2^{10}$ sama dengan $1024$, sebagian besar hanya mengangkat bahu. Pangkat bagi mereka hanyalah singkatan menulis perkalian yang panjang — bukan sesuatu yang tumbuh.</p>
<p>Sejak itu saya mengubah pembukanya. Saya tidak lagi mulai dari definisi, melainkan dari selembar kertas. Satu lembar kertas bekas, dilipat berkali-kali di depan kelas, ternyata jauh lebih jujur daripada definisi di papan tulis: anak-anak melihat sendiri bagaimana sesuatu bisa membesar dengan sangat cepat, hanya karena dilipat.</p>]]></description></item><item><title>Tali dan Tutup Panci: Mengajar Keliling Lingkaran sampai Murid Menemukan π Sendiri</title><link>https://site.pakgun.web.id/mengajar-keliling-lingkaran-tali-tutup-panci/</link><pubDate>Tue, 03 Nov 2026 12:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/mengajar-keliling-lingkaran-tali-tutup-panci/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/mengajar-keliling-lingkaran-tali-tutup-panci/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Tahun pertama saya mengajar lingkaran, saya membuka pelajaran dengan rumus. Saya menulis $K = \pi \times d$ di papan tulis, menjelaskan bahwa $\pi$ itu $22/7$ atau $3,14$, lalu memberi soal latihan. Anak-anak menyalin rumusnya dengan rapi. Tetapi ketika ulangan datang, jawabannya berantakan: diameter $14$ cm dikalikan $3,14$ sehingga hasilnya berdesimal panjang, jari-jari $7$ cm langsung dikali $22/7$ tanpa dikalikan dua dulu, dan ada yang menulis keliling dengan satuan cm². Rumusnya hafal, tetapi $\pi$ tidak pernah mereka lihat asalnya. Bagi mereka, $\pi$ hanyalah angka aneh yang harus dihafal karena gurunya menyuruh.</p>
<p>Sejak itu saya membalik urutannya. Saya tidak lagi mulai dari rumus, melainkan dari tali dan benda bundar. Pelajaran dimulai bukan dengan mencatat, melainkan dengan mengukur. Dan $\pi$ bukan saya berikan — murid yang menemukannya sendiri.</p>]]></description></item><item><title>PapanTulis: Papan Tulis Digital yang Bisa Dibawa ke Mana-Mana</title><link>https://site.pakgun.web.id/papantulis-papan-tulis-digital-kelas/</link><pubDate>Tue, 03 Nov 2026 08:30:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/papantulis-papan-tulis-digital-kelas/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/papantulis-papan-tulis-digital-kelas/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Di kelas, papan tulis itu teman kerja yang paling setia sekaligus paling merepotkan. Spidolnya habis di tengah penjelasan, tulisan kemarin sudah terhapus pagi ini, dan murid yang duduk di belakang tidak selalu bisa membaca tulisan dari tempatnya. Panel interaktif di depan kelas (PID) sudah membantu, tetapi saya masih membutuhkan papan yang tulisannya bisa saya simpan, saya buka lagi besok, dan saya lanjutkan di perangkat lain. Dari kebutuhan sesederhana itulah PapanTulis dibuat.</p>
<p>PapanTulis adalah papan tulis digital yang bisa Bapak dan Ibu buka di <a href="https://board.pakgun.web.id/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">https://board.pakgun.web.id/</a>. Tidak perlu memasang aplikasi apa pun. Buka tautannya di peramban, lalu langsung menulis, pakai jari, mouse, atau stylus, di PID, laptop, tablet, maupun HP.</p>]]></description></item><item><title>Satu Guntingan, Setengah Luas: Mengajar Luas Segitiga dari Potongan Kertas untuk Kelas VII</title><link>https://site.pakgun.web.id/mengajar-luas-segitiga-potongan-kertas/</link><pubDate>Tue, 03 Nov 2026 08:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/mengajar-luas-segitiga-potongan-kertas/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/mengajar-luas-segitiga-potongan-kertas/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Tahun pertama saya mengajar luas segitiga, saya membukanya dengan rumus. Saya menulis $L = \frac{1}{2} \times a \times t$ di papan tulis, menjelaskan bahwa $a$ adalah alas dan $t$ adalah tinggi, lalu memberi soal latihan. Anak-anak menyalin rumusnya dengan rapi. Tetapi ketika ulangan datang, jawabannya berantakan: ada yang lupa mengalikan setengah, ada yang memakai sisi miring sebagai tinggi, dan ada yang menulis satuannya sentimeter, bukan sentimeter persegi. Rumusnya hafal, alasannya tidak pernah mereka lihat.</p>
<p>Sejak itu saya mengubah urutannya. Saya tidak lagi mulai dari rumus, melainkan dari selembar kertas. Di awal pelajaran saya meminta setiap kelompok menyiapkan satu lembar kertas berbentuk persegi panjang, penggaris, dan gunting. Pelajaran dimulai bukan dengan mencatat, melainkan dengan menggunting.</p>]]></description></item><item><title>Membongkar Kardus Bekas: Mengajar Luas Permukaan Balok untuk Kelas VIII</title><link>https://site.pakgun.web.id/mengajar-luas-permukaan-balok-kardus-bekas/</link><pubDate>Tue, 03 Nov 2026 04:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/mengajar-luas-permukaan-balok-kardus-bekas/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/mengajar-luas-permukaan-balok-kardus-bekas/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Tahun pertama saya mengajar luas permukaan balok, saya membukanya dengan rumus. Saya menulis $L = 2(pl + pt + lt)$ di papan tulis, menjelaskan bahwa $p$ adalah panjang, $l$ lebar, dan $t$ tinggi, lalu memberi sepuluh soal latihan. Anak-anak menyalin rumusnya dengan rapi. Tetapi ketika ulangan datang, jawabannya berantakan: ada yang menghitung $p \times l \times t$, ada yang hanya menjumlahkan tiga sisi tanpa dikali dua, dan ada yang menulis satuannya sentimeter, bukan sentimeter persegi. Rumusnya hafal, bendanya tidak pernah mereka pegang.</p>
<p>Sejak itu saya mengubah urutannya. Saya tidak lagi mulai dari rumus, melainkan dari kardus bekas. Di awal pelajaran saya meminta setiap kelompok membawa satu kardus bekas dari rumah: kardus mi instan, kardus sepatu, atau kardus susu, apa saja yang penting berbentuk balok dan boleh disobek. Pelajaran dimulai bukan dengan mencatat, melainkan dengan membongkar.</p>]]></description></item><item><title>Mesin Penjual Otomatis di Papan Tulis: Mengajar Fungsi dari Input dan Output untuk Kelas VIII</title><link>https://site.pakgun.web.id/mengajar-fungsi-mesin-penjual-otomatis/</link><pubDate>Tue, 03 Nov 2026 00:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/mengajar-fungsi-mesin-penjual-otomatis/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/mengajar-fungsi-mesin-penjual-otomatis/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Tahun pertama saya mengajar fungsi, saya membukanya dengan definisi. &ldquo;Fungsi adalah relasi khusus yang memasangkan setiap anggota himpunan A dengan tepat satu anggota himpunan B.&rdquo; Saya menulisnya rapi di papan tulis, anak-anak menyalinnya rapi di buku, lalu ulangan datang dan hasilnya berantakan. Mereka hafal kalimatnya, tetapi tidak paham maksudnya. Sejak itu saya mengubah urutannya: saya mulai dari benda yang mereka kenal, dan definisinya baru kami rumuskan bersama di akhir pelajaran.</p>
<p>Benda itu adalah mesin penjual otomatis. Saya menggambarnya di papan tulis: sebuah kotak besar, satu lubang untuk memasukkan koin, satu tombol, dan satu lubang tempat minuman keluar. Lalu saya bertanya, &ldquo;Kalau kita memasukkan koin lima ribu dan menekan tombol teh botol, apa yang keluar?&rdquo; Serentak mereka menjawab, &ldquo;Teh botol, Pak.&rdquo; Pertanyaan berikutnya yang lebih penting: &ldquo;Bisakah dari satu tombol yang sama keluar dua minuman yang berbeda?&rdquo; Mereka tertawa. &ldquo;Tidak bisa, Pak, nanti yang jualan rugi.&rdquo; Di situlah fungsi mulai masuk akal.</p>]]></description></item><item><title>Tegak Lurus Tanpa Busur Derajat: Menggambar Garis Tegak Lurus dari Titik di Luar Garis dengan TikZ</title><link>https://site.pakgun.web.id/tikz-garis-tegak-lurus-titik-di-luar-garis/</link><pubDate>Mon, 02 Nov 2026 20:01:00 +0700</pubDate><author><name>Gunanto</name></author><guid>https://site.pakgun.web.id/tikz-garis-tegak-lurus-titik-di-luar-garis/</guid><description><![CDATA[<div class="featured-image">
                <img src="/tikz-garis-tegak-lurus-titik-di-luar-garis/featured-image.png" referrerpolicy="no-referrer">
            </div><p>Pekan lalu, seorang siswa bertanya kepada saya sambil menunjuk gambar di buku: &ldquo;Pak, kalau titiknya tidak menempel di garis, bagaimana cara menarik garis tegak lurusnya?&rdquo; Pertanyaan itu bagus, karena selama ini sebagian besar siswa hanya pernah menarik garis tegak lurus dari titik yang sudah terletak pada garis itu sendiri. Begitu titiknya melayang di luar garis, mereka kebingungan: dari mana harus mulai, dan bagaimana memastikan garis yang ditarik benar-benar tegak lurus, bukan sekadar tampak tegak lurus.</p>
<p>Di kelas, saya menjawabnya bukan dengan busur derajat, melainkan dengan jangka: satu titik ditemukan oleh perpotongan dua busur, bukan oleh tebakan mata. Setelah siswa melihat sendiri mengapa cara itu bekerja, saya menuangkannya ke TikZ, supaya langkahnya bisa dicetak di lembar kerja dan dipakai lagi tahun depan.</p>]]></description></item></channel></rss>