Di Kelas Saya, AI Boleh Dipakai untuk Bertanya, Bukan untuk Menyalin

Awalnya saya menemukan masalah ini bukan dari pengakuan murid, melainkan dari pekerjaan rumah yang terlalu rapi. Suatu pagi saya memeriksa PR persamaan linear satu variabel, dan ada beberapa lembar yang jawabannya lengkap sampai ke langkah terakhir, dengan kalimat penjelasan yang teratur dan tanda baca yang sempurna. Saya senang sesaat, sampai saya memanggil pemilik salah satu lembar itu ke depan dan memintanya mengerjakan soal yang hampir sama di papan tulis. Ia terdiam. Ia tidak bisa memulai, bahkan untuk langkah pertama yang di kertasnya tertulis begitu meyakinkan.
Saya tidak marah saat itu, tetapi saya pulang dengan pertanyaan yang mengganjal. Kalau saya hanya melarang AI, masalahnya tidak selesai, karena di rumah murid tetap bisa mengaksesnya tanpa saya lihat. Kalau saya membiarkan begitu saja, yang saya nilai bukan lagi pemahaman, melainkan kerapian salinan. Di antara melarang dan membiarkan, saya merasa ada jalan ketiga: kesepakatan yang jelas, dibuat bersama murid, tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan AI.
1 Kesepakatan Itu Kami Tulis Bersama
Keesokan harinya saya tidak langsung mengumumkan aturan. Saya membuka pelajaran dengan pertanyaan yang jujur: menurut kalian, memakai AI untuk PR itu curang atau tidak? Jawabannya beragam, dan justru keragaman itu yang saya butuhkan. Ada yang berkata curang karena jawabannya bukan hasil berpikir sendiri. Ada yang berkata tidak curang karena AI hanya membantu seperti kakak yang menjelaskan. Ada pula yang diam, mungkin karena belum yakin mana pendapat yang aman diucapkan di depan guru.
Dari diskusi itu kami menyusun kesepakatan dalam bahasa yang sederhana, lalu saya tempelkan di dinding kelas. Bunyinya kira-kira begini: AI boleh dipakai untuk bertanya, bukan untuk menyalin. Boleh bertanya arti suatu langkah, boleh meminta contoh lain yang sejenis, boleh meminta penjelasan dengan kalimat yang berbeda sampai paham. Tidak boleh meminta AI mengerjakan PR lalu menyalin jawabannya, tidak boleh memfoto soal dan mengumpulkan hasilnya begitu saja, dan tidak boleh mengaku paham atas jawaban yang belum bisa dijelaskan sendiri.
Saya sengaja menulis kesepakatan itu bersama murid, bukan sekadar menempelkan aturan buatan saya. Aturan yang hanya datang dari guru mudah dilanggar diam-diam. Kesepakatan yang mereka ikut merumuskan memang tetap bisa dilanggar, tetapi mereka tidak bisa lagi berkata tidak tahu batasnya, karena batas itu pernah mereka ucapkan sendiri.
2 Ujian Sebenarnya: Jelaskan Kembali
Kesepakatan tanpa cara memeriksa hanya akan menjadi pajangan dinding. Karena itu saya mengubah satu kebiasaan kecil dalam cara saya menilai. Untuk beberapa PR, saya tidak lagi hanya mengumpulkan kertasnya. Saya meminta dua atau tiga murid secara acak untuk menjelaskan satu langkah dari pekerjaannya dengan kata-kata mereka sendiri, di depan kelas atau di meja saya. Bukan untuk menghukum, melainkan untuk memastikan bahwa jawaban itu benar-benar milik mereka.
Suatu hari seorang murid yang dulu mengumpulkan PR paling rapi justru menunjukkan perubahan yang membuat saya lega. Ia bertanya kepada AI mengapa dari $-2x = 10$ diperoleh $x = -5$, lalu mencatat penjelasan tentang pembagian kedua ruas dengan $-2$ memakai bahasanya sendiri. Keesokan harinya, ketika saya memintanya mengerjakan soal sejenis tanpa AI, ia bisa melakukannya. Ia tidak menghafal jawaban. Ia membawa pulang cara berpikirnya. Di situlah saya merasa kesepakatan kami bekerja: AI dipakai sebagai tempat bertanya, bukan sebagai mesin penjawab.
Sebaliknya, ketika ada murid yang masih menyalin, saya tidak langsung memberi nilai nol dan menutup percakapan. Saya memintanya mengerjakan ulang soal itu bersama saya, langkah demi langkah, sampai ia bisa menjelaskan satu langkah saja dengan yakin. Konsekuensinya bukan hukuman yang menakutkan, melainkan pekerjaan tambahan yang jujur: mengulang dengan pemahaman. Sejauh pengalaman saya, cara ini lebih lama, tetapi lebih mengubah kebiasaan daripada sekadar nilai merah.
3 Tiga Batas yang Saya Pegang Sendiri
Sebagai guru, saya pun perlu batas untuk diri saya sendiri. Pertama, AI tidak boleh menjadi alasan saya berhenti memeriksa. Kalau jawaban murid terlihat rapi, saya tetap bertanya. Kalau jawaban terlihat aneh, saya tetap membaca langkahnya, karena AI juga bisa salah dan murid bisa saja menyalin kesalahan itu tanpa sadar. Kedua, saya tidak memakai AI untuk menggantikan penilaian saya. AI boleh membantu saya menyusun variasi soal atau memeriksa draf rubrik, tetapi keputusan tentang pemahaman seorang murid tetap saya ambil dari percakapan dan pekerjaannya di kelas, bukan dari ringkasan mesin.
Ketiga, saya ingat tidak semua murid punya akses yang sama: ada yang ponselnya dipakai bergantian dengan orang tua, ada yang kuotanya terbatas. Karena itu kesepakatan kami tidak menuntut setiap murid memakai AI di rumah. Di kelas, kami sesekali memakai satu perangkat bersama untuk bertanya kepada AI, lalu mendiskusikan jawabannya ramai-ramai, sehingga AI menjadi bahan diskusi kelas, bukan keuntungan diam-diam bagi yang punya perangkat paling canggih.
4 Larangan Mudah, Kesepakatan Lebih Lama
Saya tidak mengklaim cara ini menyelesaikan segalanya. Masih ada murid yang menyalin, dan masih ada hari ketika saya tergoda kembali ke cara lama: melarang saja, supaya urusan cepat selesai. Tetapi larangan yang mudah justru membuat perilaku itu bersembunyi. Kesepakatan memang lebih lama dibuatnya dan lebih sering harus diingatkan kembali, namun ia mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan larangan: cara memakai alat baru dengan jujur.
Pada akhirnya, yang saya inginkan bukan kelas yang bebas dari AI, karena dunia di luar kelas tidak akan bebas dari AI. Yang saya inginkan adalah murid yang tahu kapan harus bertanya, kapan harus berpikir sendiri, dan kapan harus mengakui bahwa ia belum paham. Kalau suatu hari mereka memakai AI di tempat kerja atau di jenjang berikutnya, saya berharap yang mereka ingat bukan sekadar larangan dari gurunya, melainkan kalimat yang dulu kami tulis bersama di dinding kelas: boleh bertanya, bukan menyalin.




